Sisi Ekonomi Baitul Maal BMT
/0 Comments/in Artikel/by administratorSisi Ekonomi Baitul Maal BMT
Oleh: Mahatma Yusuf (Praktisi Baitul Maal BMT selama 12 tahun)
Ternyata Baitul Maal Juga Bisa Menghasilkan
Ada anggota yang menempatkan dananya di BMT. Ada marketing yang mencari anggota, produk yang ditawarkan, dan pelayanan yang diberikan.
Setelah dana terhimpun, Tamwil menyalurkannya melalui pembiayaan. Dari aktivitas tersebut, Tamwil memperoleh pendapatan sesuai akad yang digunakan.
Semua itu dengan mudah kita kenali sebagai aktivitas ekonomi.
Tetapi coba kita lihat Baitul Maal.
Baitul Maal juga membutuhkan sumber daya untuk menjalankan fungsinya. Karena itu ada fundraising, kampanye, konten, edukasi, syiar, orang yang dihubungi, donatur yang dijaga hubungannya, dan wakif yang dibangun kepercayaannya.
Setelah dana terkumpul, dana tersebut dikelola dan disalurkan melalui berbagai program.
Ada pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, pemberdayaan ekonomi, dan berbagai bentuk pelayanan sosial lainnya.
Semua itu biasa kita sebut sebagai kegiatan sosial.
Dan memang benar.
Baitul Maal menjalankan fungsi sosial.
Tetapi kalau kita berhenti sampai di sana, ada bagian lain yang tidak terlihat.
Di dalam aktivitas sosial tersebut terdapat proses penghimpunan dana, pengelolaan sumber daya, komunikasi, pelayanan, pembangunan jaringan, dan hubungan dengan masyarakat. Dengan kata lain, ada aktivitas ekonomi yang berjalan di dalam fungsi sosial Baitul Maal.
Tulisan ini bukan untuk menjadikan Baitul Maal sebagai Tamwil.
Bukan pula untuk mengubah seluruh kegiatan sosial menjadi bisnis.
Saya hanya ingin mengajak melihat Baitul Maal dari sudut pandang yang sedikit berbeda.
Karena mungkin selama ini kita terlalu mudah mengatakan:
Tamwil menghasilkan. Maal menghabiskan.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Ketika Tamwil Menghimpun, Maal Juga Melakukan Fundraising
Tamwil membutuhkan dana untuk menjalankan aktivitasnya. Maka Tamwil melakukan penghimpunan simpanan.
Ada produk yang diperkenalkan. Ada komunikasi dengan calon anggota. Ada pelayanan. Ada marketing yang membangun hubungan dan kepercayaan agar masyarakat bersedia menempatkan dananya di BMT.
Tidak ada yang menganggap aktivitas tersebut sebagai sesuatu yang aneh.
Karena memang begitulah cara kerja Tamwil.
Sekarang kita lihat Baitul Maal.
Baitul Maal juga membutuhkan dana untuk menjalankan program. Maka Maal melakukan fundraising.
Mencari muzaki, mencari donatur, mencari wakif, membuat kampanye, membuat konten, melakukan edukasi dan syiar, menghubungi donatur lama, mencari donatur baru, serta menjaga hubungan dengan mereka.
Kalau dilihat dari prosesnya, terdapat kesamaan yang cukup mendasar.
Tamwil berusaha membangun kepercayaan agar masyarakat bersedia menempatkan dananya di lembaga.
Maal juga berusaha membangun kepercayaan agar masyarakat bersedia menyalurkan dana zakat, infak, sedekah, atau wakaf melalui lembaga.
Tentu sumber dana, akad, tujuan, dan mekanisme pengelolaannya berbeda.
Tetapi keduanya sama-sama membutuhkan kemampuan menghimpun sumber daya dari masyarakat dan mengelola hubungan dengan orang-orang yang mempercayakan dananya kepada lembaga.
Di titik ini kita mulai melihat bahwa fundraising bukan sekadar pekerjaan meminta donasi.
Di dalamnya ada komunikasi, pelayanan, kepercayaan, database, hubungan, kampanye, dan proses panjang agar seseorang bersedia mempercayakan dananya kepada lembaga.
Tamwil Menghimpun Simpanan, Maal Bisa Menghimpun Wakaf Uang
Persamaan dan perbedaan itu semakin menarik ketika kita melihat instrumen penghimpunannya.
Tamwil menghimpun simpanan. Seseorang menempatkan uangnya di BMT sebagai anggota, dengan karakter dan mekanisme sesuai produk serta akad yang digunakan.
Baitul Maal memiliki instrumen yang berbeda.
Salah satunya adalah wakaf uang.
Masyarakat dapat menyerahkan sejumlah uang untuk diwakafkan dan kemudian dikelola sesuai ketentuan wakaf.
Tentu wakaf uang bukan simpanan biasa. Tujuan dan mekanisme pengelolaannya berbeda. Dana wakaf memiliki karakter dan ketentuan sendiri.
Namun dari sisi kemampuan organisasi, terdapat satu kesamaan yang penting:
keduanya membutuhkan kepercayaan masyarakat.
Ketika kita mengatakan:
“BMT berhasil menghimpun simpanan Rp1 miliar,”
kita sedang mengakui kemampuan Tamwil dalam membangun kepercayaan dan menghimpun dana.
Maka ketika Baitul Maal berhasil menghimpun wakaf uang, kita juga perlu melihatnya sebagai sebuah capaian penghimpunan yang membutuhkan kemampuan organisasi.
Bukan karena simpanan dan wakaf uang adalah hal yang sama.
Tetapi karena keduanya menunjukkan bahwa lembaga mampu membuat masyarakat percaya untuk menempatkan atau menyerahkan dananya melalui lembaga tersebut.
Dalam wakaf uang, dana yang diwakafkan juga bukan sekadar uang yang dititipkan untuk kemudian ditarik kembali seperti simpanan biasa. Ia diarahkan menjadi bagian dari aset wakaf dan dikelola sesuai ketentuan agar manfaatnya dapat berlangsung.
Karena itu, aktivitas Baitul Maal sebenarnya tidak berhenti pada:
mengumpulkan dana → kemudian membagikannya.
Ada proses yang lebih panjang:
menghimpun → membangun kepercayaan → mengelola → mengubahnya menjadi manfaat.
Dan proses tersebut juga membutuhkan kemampuan organisasi.
Kalau Tamwil Punya Marketing, Maal Punya Apa?
Mungkin ada yang mengatakan:
“Kalau Tamwil mencari simpanan, itu memang marketing. Tetapi kalau Maal mengajak orang zakat atau sedekah, itu kan syiar.”
Betul.
Kita boleh menyebutnya syiar. Bahkan syiar memang menjadi bagian penting dari pekerjaan Baitul Maal.
Tetapi coba lihat apa saja yang harus dilakukan untuk menjalankan syiar tersebut.
Ada orang yang harus dijangkau. Ada pesan yang harus dibuat. Ada media yang digunakan. Ada kampanye yang disusun. Ada calon donatur yang perlu dikenali. Ada donatur lama yang harus dilayani. Ada laporan yang harus diberikan. Ada komunikasi yang harus dilakukan dan hubungan yang harus dipelihara.
Di dalamnya terdapat aktivitas komunikasi, pemasaran, pelayanan, dan relationship.
Tamwil menyampaikan:
“Mari simpan uang di BMT.”
Maal menyampaikan:
“Mari tunaikan zakat.”
“Mari bersedekah.”
“Mari berwakaf.”
Pesannya berbeda. Tujuannya berbeda.
Tetapi keduanya sama-sama membutuhkan kemampuan lembaga untuk menjangkau masyarakat, membangun kepercayaan, dan mengubah kepercayaan tersebut menjadi hubungan yang berkelanjutan.
Karena itu, menurut saya tidak ada masalah jika Baitul Maal belajar marketing.
Tentu marketing Maal bukan berarti menjual agama.
Marketing dalam konteks Maal adalah bagaimana lembaga mengkomunikasikan nilai kebaikan, memberikan pemahaman, membangun kepercayaan, dan memudahkan masyarakat menyalurkan dana melalui lembaga yang dipercaya.
Jadi, ketika sebuah kampanye Maal berhasil, hasilnya bukan hanya konten yang bagus atau jumlah tayangan yang tinggi.
Ada hubungan yang terbentuk.
Ada kepercayaan yang tumbuh.
Dan ada dana yang berhasil dihimpun.
Tamwil Menghasilkan Pendapatan. Bagaimana dengan Maal?
Setelah dana dihimpun, Tamwil tidak berhenti.
Dana tersebut dikelola dan salah satunya disalurkan melalui pembiayaan. Dari aktivitas tersebut Tamwil memperoleh pendapatan sesuai akad yang digunakan.
Karena itu kita mengatakan:
Tamwil menghasilkan.
Lalu bagaimana dengan Maal?
Maal juga mengelola dana yang dihimpun.
Tetapi hasil dan bentuk pengelolaannya memang berbeda.
Zakat disalurkan kepada mustahik sesuai ketentuan. Infak dan sedekah disalurkan melalui program sesuai peruntukannya. Wakaf dikelola sesuai ketentuan wakaf.
Ada program pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, pemberdayaan ekonomi, dan berbagai bentuk pelayanan lainnya.
Karena tujuan akhirnya berbeda, hasilnya tentu tidak tepat jika disamakan begitu saja dengan pendapatan Tamwil.
Tetapi di sinilah kita sering melakukan kekeliruan.
Kita melihat Tamwil secara lengkap:
himpun → kelola → salurkan → menghasilkan pendapatan.
Sementara Maal sering kita lihat hanya dari ujungnya:
himpun → salurkan → uang keluar.
Padahal di antara kedua titik tersebut terdapat banyak aktivitas.
Ada fundraising. Ada komunikasi. Ada pelayanan. Ada pengelolaan. Ada hubungan dengan donatur. Ada program. Ada pemberdayaan.
Dan dalam pengelolaan dana tertentu juga terdapat mekanisme hak pengelolaan sesuai ketentuan.
Jadi, melihat Maal hanya dari uang yang keluar berarti kita sebenarnya hanya melihat sebagian kecil dari keseluruhan prosesnya.
Ada Sumber Daya dalam Pengelolaan Baitul Maal
Ini bagian yang perlu kita pahami dengan hati-hati.
Dalam pengelolaan zakat terdapat hak amil sesuai ketentuan yang berlaku. Dalam pengelolaan wakaf terdapat hak dan mekanisme pengelolaan oleh nazhir sesuai ketentuan wakaf.
Saya tidak ingin menyebutnya sebagai “laba” seperti pendapatan Tamwil.
Konteksnya berbeda.
Tetapi kita juga tidak perlu mengabaikan kenyataan bahwa pengelolaan Maal memiliki mekanisme sumber daya yang memang diatur dalam ketentuan.
Artinya, pengelolaan dana Maal tidak bisa dipahami hanya sebagai kegiatan:
“Dana masuk, kemudian seluruhnya keluar untuk program.”
Ada proses pengelolaan yang membutuhkan orang, sistem, pelayanan, pelaporan, komunikasi, dan berbagai sumber daya lainnya.
Karena itu, ketika membicarakan Baitul Maal, kita perlu membedakan antara dana yang dihimpun untuk disalurkan dengan sumber daya yang dibutuhkan dan tersedia untuk mengelola aktivitas tersebut.
Keduanya tidak boleh dicampuradukkan.
Namun keduanya juga tidak boleh diabaikan.
Tetapi Bukankah Maal Tetap Membutuhkan Biaya?
Tentu.
Maal membutuhkan biaya.
Tamwil juga membutuhkan biaya.
Marketing membutuhkan biaya. SDM membutuhkan biaya. Teknologi membutuhkan biaya. Kantor dan operasional membutuhkan biaya.
Tidak ada organisasi yang berjalan tanpa biaya.
Karena itu, menurut saya persoalannya bukan:
“Apakah Maal membutuhkan biaya?”
Jawabannya jelas: iya.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apa yang dilakukan Baitul Maal dengan biaya tersebut, dan apa yang dihasilkan dari aktivitas yang dijalankannya?”
Pertanyaan ini berbeda.
Kita tidak sedang mengatakan bahwa Maal harus membiayai dirinya sendiri.
Kita juga tidak mengatakan bahwa karena ada hak amil maka seluruh biaya Maal harus ditutup dari sana.
Memiliki sumber daya tidak otomatis berarti harus mandiri secara finansial.
Marketing Tamwil juga membutuhkan biaya. Tetapi kita tidak menilai marketing hanya dengan pertanyaan apakah gaji seorang marketing sudah kembali dalam bentuk pendapatan pada bulan yang sama.
Kita memahami bahwa marketing merupakan bagian dari proses membangun bisnis.
Begitu pula Maal.
Yang perlu kita lihat adalah apa kontribusi Maal terhadap keseluruhan ekosistem BMT.
Baitul Maal Juga Memiliki Ekosistem Penghimpunan
Baitul Maal mungkin tidak memiliki “pasar” dalam pengertian bisnis seperti Tamwil.
Tetapi Maal memiliki masyarakat yang menjadi sasaran komunikasi, pelayanan, edukasi, dan penghimpunan.
Tamwil memiliki calon anggota.
Maal memiliki calon muzaki.
Tamwil memiliki anggota penyimpan.
Maal memiliki donatur.
Tamwil memiliki calon nasabah pembiayaan.
Maal memiliki calon wakif.
Tamwil membangun database anggota.
Maal juga perlu membangun database donatur dan wakif.
Tamwil menjaga hubungan dengan anggota.
Maal menjaga hubungan dengan donatur.
Tamwil melakukan pelayanan.
Maal juga melakukan pelayanan.
Karena itu, sebenarnya Baitul Maal memiliki ekosistem penghimpunan sendiri.
Ketika fundraising Maal kecil, kita sering mengatakan bahwa masyarakat sulit diajak berdonasi.
Padahal bisa jadi persoalannya bukan semata-mata masyarakat.
Bisa jadi lembaganya belum cukup serius membangun ekosistem tersebut: belum cukup mengenal calon donatur, belum membangun komunikasi secara rutin, belum memiliki database yang baik, atau belum memberikan pelayanan dan laporan yang membuat orang ingin kembali.
Donatur Bisa Menjadi Anggota, Anggota Bisa Menjadi Donatur
Di sinilah hubungan antara Maal dan Tamwil menjadi semakin menarik.
Seseorang bisa pertama kali mengenal BMT melalui Maal.
Ia melihat program sosial. Ia berdonasi. Kemudian mulai mengenal lembaganya.
Suatu hari ia membutuhkan layanan keuangan dan akhirnya menjadi anggota Tamwil.
Begitu pula sebaliknya.
Seseorang awalnya menjadi anggota Tamwil. Ia memiliki pengalaman dengan BMT. Kemudian mendapatkan edukasi tentang zakat dan menjadi muzaki. Setelah mengenal wakaf, ia kemudian menjadi wakif.
Maka siapa sebenarnya orang tersebut?
Anggota atau donatur?
Bisa jadi keduanya.
Inilah mengapa hubungan antara Maal dan Tamwil tidak seharusnya dibangun seperti dua bagian yang sama sekali tidak saling mengenal.
Fungsi, dana, akad, dan pengelolaannya memang harus jelas.
Tetapi dalam hubungan dengan masyarakat, keduanya dapat saling membuka pintu.
Maal bisa menjadi pintu seseorang mengenal BMT. Tamwil juga bisa menjadi pintu seseorang mengenal Maal.
Pemberdayaan Maal Juga Berhubungan dengan Aktivitas Ekonomi
Hal yang sama berlaku pada program pemberdayaan.
Misalnya Baitul Maal memberikan bantuan modal usaha kepada seorang dhuafa.
Program yang baik tentu tidak berhenti pada pemberian uang.
Ada pendampingan. Ada peningkatan keterampilan. Ada pembinaan usaha. Ada proses agar penerima manfaat memiliki penghasilan yang lebih baik.
Ketika usahanya berkembang, kebutuhan ekonominya juga dapat berubah.
Pada kondisi tertentu, jika memenuhi syarat dan sesuai kebijakan, orang tersebut mungkin membutuhkan layanan pembiayaan dari Tamwil.
Tentu bukan berarti setiap mustahik harus menjadi nasabah.
Bukan pula berarti setiap program Maal harus berakhir dengan pembiayaan Tamwil.
Tetapi kita perlu melihat bahwa pemberdayaan ekonomi juga menciptakan aktivitas ekonomi.
Maal dapat bekerja pada tahap awal. Tamwil dapat bekerja pada tahap berikutnya.
Keduanya tidak harus saling menggantikan.
Justru bisa saling melengkapi.
Jadi, Apakah Baitul Maal Menghasilkan?
Sekarang kita kembali ke pertanyaan awal.
Apakah Baitul Maal menghasilkan?
Jawabannya: ya.
Tetapi kata “menghasilkan” tidak boleh langsung disamakan dengan “menghasilkan laba”.
Maal menghasilkan dana yang berhasil dihimpun. Menghasilkan donatur dan wakif yang terhubung dengan lembaga. Menghasilkan jaringan masyarakat, kepercayaan, literasi, pemberdayaan, dan hubungan yang dalam jangka panjang dapat membuka aktivitas ekonomi baru bagi keseluruhan BMT.
Sebagian hasilnya berbentuk dana.
Sebagian berbentuk hubungan.
Sebagian berbentuk kepercayaan.
Sebagian berbentuk perubahan pada penerima manfaat.
Dan sebagian lagi baru terlihat setelah waktu yang cukup panjang.
Karena itu, mungkin pertanyaannya bukan lagi:
“Apakah Maal menghasilkan?”
Melainkan:
“Apa saja yang sebenarnya dihasilkan oleh Baitul Maal?”
Pertanyaan itu jauh lebih menarik.
Karena begitu pertanyaannya berubah, cara kita melihat Maal juga ikut berubah.
Baitul Maal Tidak Harus Menjadi Tamwil
Setelah melihat semua itu, kita tetap perlu menjaga batas yang penting.
Baitul Maal tidak perlu berubah menjadi Tamwil.
Maal bukan lembaga pembiayaan. Maal bukan tempat mengejar margin. Dana zakat bukan modal bisnis yang boleh diperlakukan sembarangan. Dana wakaf memiliki ketentuannya sendiri. Dana infak dan sedekah juga memiliki peruntukan yang harus dijaga.
Jadi bukan itu persoalannya.
Persoalannya adalah bagaimana kita menilai keberadaan Maal di dalam organisasi.
Selama ini kita terlalu mudah membuat kesimpulan:
Tamwil menghasilkan.
Maal menghabiskan.
Padahal mungkin yang lebih tepat adalah:
Tamwil memiliki cara menghasilkan yang berbeda.
Maal juga memiliki cara menghasilkan yang berbeda.
Tamwil menghimpun simpanan. Maal menghimpun ZIS dan wakaf.
Tamwil melakukan marketing. Maal melakukan fundraising dan syiar.
Tamwil menyalurkan pembiayaan. Maal menjalankan program dan pemberdayaan.
Tamwil memperoleh pendapatan dari aktivitas bisnisnya. Maal memiliki mekanisme pengelolaan sesuai ketentuan.
Keduanya berbeda.
Tetapi perbedaan fungsi tidak berarti salah satunya hanya menjadi beban bagi organisasi. Keduanya dapat menciptakan nilai dengan cara yang berbeda.
Mungkin Selama Ini Kita Salah Menghitung
Pada akhirnya, mungkin persoalannya bukan karena Baitul Maal tidak menghasilkan.
Mungkin kita hanya menggunakan alat ukur yang berbeda.
Kita menghitung Tamwil dengan sangat rinci.
Berapa simpanan? Berapa pembiayaan? Berapa pendapatan? Berapa margin? Berapa anggota baru?
Ketika melihat Maal, kita sering berhenti pada:
Berapa donasi? Berapa yang disalurkan? Berapa biaya program?
Padahal kita juga bisa bertanya:
Berapa donatur baru yang diperoleh? Berapa donatur yang kemudian menjadi rutin? Berapa wakif baru? Berapa dana wakaf yang berhasil dihimpun? Berapa jaringan yang terbentuk? Berapa orang yang mengenal BMT melalui Maal? Berapa anggota Tamwil yang kemudian menjadi muzaki? Berapa donatur Maal yang kemudian menjadi anggota? Berapa penerima manfaat yang berhasil diberdayakan? Dan bagaimana seluruh aktivitas tersebut berkontribusi terhadap ekosistem BMT?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat kita melihat Baitul Maal secara lebih utuh.
Bukan hanya sebagai fungsi yang mengeluarkan uang untuk program sosial, tetapi sebagai fungsi yang menghimpun, mengelola, membangun hubungan, menciptakan manfaat, dan menghasilkan berbagai bentuk nilai.
Penutup: Melihat Baitul Maal dengan Lebih Utuh
Mungkin sebenarnya persoalannya sederhana.
Kita terlalu lama terbiasa melihat Tamwil dengan kacamata ekonomi dan Maal dengan kacamata sosial.
Akibatnya, ketika melihat Tamwil, kita melihat proses.
Ketika melihat Maal, kita sering hanya melihat hasil akhirnya.
Tamwil menghimpun, mengelola, menyalurkan, kemudian menghasilkan pendapatan.
Maal juga menghimpun, mengelola, menyalurkan, membangun hubungan, menjalankan program, melakukan pemberdayaan, dan menciptakan berbagai bentuk manfaat.
Hasilnya memang tidak sama.
Cara mengukurnya juga tidak bisa sama.
Tetapi bukan berarti salah satunya tidak memiliki nilai ekonomi.
Karena itu, mungkin sudah waktunya kita tidak hanya bertanya:
“Berapa biaya yang dibutuhkan Maal?”
Kita juga perlu bertanya:
“Berapa dana yang berhasil dihimpun?”
“Berapa hubungan yang berhasil dibangun?”
“Berapa donatur dan wakif yang berhasil dijangkau?”
“Berapa orang yang berhasil diberdayakan?”
“Berapa jaringan yang terbentuk?”
“Dan apa kontribusi seluruh aktivitas tersebut bagi BMT?”
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk mengubah Baitul Maal menjadi Tamwil.
Justru sebaliknya.
Ia membantu kita memahami Baitul Maal sesuai fungsinya sendiri, tetapi dengan cara pandang yang lebih utuh.
Sebab Baitul Maal bukan sekadar tempat dana masuk lalu dana keluar.
Di dalamnya ada penghimpunan. Ada komunikasi. Ada kepercayaan. Ada pelayanan. Ada pengelolaan. Ada pemberdayaan. Ada hubungan dengan masyarakat. Dan ada nilai yang diciptakan.
Baitul Maal memang berbeda dengan Tamwil.
Tetapi berbeda bukan berarti tidak memiliki aktivitas ekonomi.
Dan mungkin, selama ini bukan Baitul Maal yang terlalu sedikit menghasilkan.
Mungkin kita yang belum cukup lengkap dalam melihat apa yang dihasilkannya.


BMT Rismada Photo by freepik
Berkoperasilah yang Benar, Maka Otomatis Sudah Berkoperasi Syariah, Benarkah? Photo by www.pelajaran.co.id 

Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!