Sisi Ekonomi Baitul Maal BMT
Oleh: Mahatma Yusuf (Praktisi Baitul Maal BMT selama 12 tahun)
Baitul Maal: Beban Tamwil?
Ada satu cara pandang yang cukup sering saya temui ketika berbicara tentang Baitul Maal di lingkungan BMT.
Tamwil menghasilkan. Maal membutuhkan.
Bahkan dalam bentuk yang lebih tegas, Baitul Maal kadang dipandang sebagai bagian yang menjadi beban Tamwil. Ketika Maal membutuhkan biaya operasional, membutuhkan tenaga pengelola, membutuhkan anggaran untuk program, bahkan ketika gaji pengelolanya masih ditopang oleh organisasi, semuanya kemudian dibaca sebagai biaya yang harus ditanggung Tamwil.
Saya memahami mengapa cara pandang seperti ini muncul.
Tamwil memang menjalankan aktivitas usaha. Ada simpanan, pembiayaan, margin atau pendapatan sesuai akad, anggota, marketing, target, dan berbagai ukuran kinerja yang jelas.
Sementara Baitul Maal menjalankan fungsi sosial. Dana dihimpun, kemudian disalurkan untuk pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, pemberdayaan dan berbagai kebutuhan masyarakat.
Kalau hanya melihat uang yang keluar, tentu Maal terlihat berbeda.
Tetapi persoalannya justru ada di sini.
Apakah kita sedang membandingkan keseluruhan aktivitas Tamwil dengan hanya melihat pengeluaran Maal?
Kalau memang demikian, sejak awal cara kita melihatnya sudah tidak seimbang.
Tamwil dan Maal Sama-Sama Menghimpun
Coba kita lihat Tamwil dan Maal dari proses kerjanya.
| Tamwil | Baitul Maal |
|---|
| Menghimpun simpanan | Menghimpun zakat, infak, sedekah, wakaf |
| Mencari calon anggota | Mencari muzaki, donatur, wakif |
| Melakukan marketing | Melakukan fundraising dan syiar |
| Membangun kepercayaan | Membangun kepercayaan |
| Menjaga hubungan anggota | Menjaga hubungan donatur/wakif |
| Membangun database anggota | Membangun database donatur/wakif |
| Mengelola dana | Mengelola dana |
| Menyalurkan pembiayaan | Menyalurkan program/pemberdayaan |
| Menghasilkan pendapatan usaha | Menghasilkan manfaat dan berbagai nilai |
Saya tidak sedang mengatakan bahwa Tamwil dan Maal adalah hal yang sama.
Jelas berbeda.
Sumber dananya berbeda. Akadnya berbeda. Tujuannya berbeda. Cara pengelolaannya berbeda. Ukuran keberhasilannya pun berbeda.
Tetapi ada satu hal yang sama:
keduanya membutuhkan kemampuan organisasi untuk menghimpun sumber daya dari masyarakat.
Tamwil harus membuat orang percaya sehingga bersedia menempatkan dananya.
Maal juga harus membuat orang percaya sehingga bersedia menyalurkan zakat, infak, sedekah atau wakaf melalui lembaga.
Karena itu, fundraising Maal sebenarnya bukan sekadar pekerjaan meminta donasi.
Di dalamnya ada komunikasi, pelayanan, edukasi, kampanye, database, relationship, pelaporan dan proses membangun kepercayaan.
Semua itu membutuhkan tenaga dan biaya.
Dan selama ini kita sebenarnya sudah memahami logika tersebut dalam Tamwil.
Mengapa ketika marketing Tamwil membutuhkan biaya, kita menyebutnya investasi untuk membangun bisnis?
Tetapi ketika fundraising Maal membutuhkan biaya, kita langsung menyebutnya beban?
Kalau Tamwil Punya Marketing, Maal Punya Apa?
Ada yang mungkin mengatakan:
“Tamwil mencari simpanan, itu memang marketing. Kalau Maal mengajak orang zakat atau sedekah, itu kan syiar.”
Saya setuju.
Syiar memang bagian penting dari pekerjaan Baitul Maal.
Tetapi syiar yang dilakukan oleh lembaga tidak berhenti pada menyampaikan pesan.
Ada masyarakat yang harus dijangkau.
Ada pesan yang harus disusun.
Ada media yang harus digunakan.
Ada kampanye yang harus dibuat.
Ada calon donatur yang perlu dikenali.
Ada donatur lama yang perlu dijaga hubungannya.
Ada laporan yang perlu diberikan.
Ada pelayanan yang harus dilakukan.
Ada kepercayaan yang harus dibangun.
Jadi, meskipun istilahnya syiar, di dalam pelaksanaannya terdapat aktivitas komunikasi, pemasaran, pelayanan dan relationship.
Karena itu saya tidak melihat persoalan ketika Baitul Maal belajar marketing.
Bukan marketing dalam arti menjual agama.
Tetapi marketing dalam arti bagaimana lembaga menyampaikan nilai kebaikan, membangun kepercayaan dan memudahkan masyarakat menyalurkan dananya melalui lembaga.
Kalau aktivitas tersebut berhasil, hasilnya bukan hanya jumlah orang yang melihat konten.
Ada donatur baru.
Ada muzaki baru.
Ada wakif baru.
Ada hubungan baru.
Dan ada dana yang berhasil dihimpun.
Wakaf Uang: Bukan Simpanan, Tetapi Sama-Sama Menguatkan BMT
Hal ini menjadi lebih menarik ketika kita melihat wakaf uang.
Dalam Tamwil, BMT menghimpun simpanan dari anggota.
Simpanan tersebut bukan milik BMT. Dana itu tetap merupakan hak anggota sesuai dengan akad yang disepakati.
Tetapi dari dana yang dihimpun itulah Tamwil memiliki sumber dana untuk menjalankan kegiatan usahanya.
Semakin besar simpanan yang berhasil dihimpun, semakin besar pula sumber dana yang dapat dikelola.
Karena itu, kemampuan menghimpun simpanan menjadi salah satu kekuatan penting bagi Tamwil.
Lalu bagaimana dengan Baitul Maal?
Dalam konteks pengelolaan wakaf, Baitul Maal juga dapat menghimpun wakaf uang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Tentu wakaf uang bukan simpanan.
Akadnya berbeda. Tujuannya berbeda. Mekanisme pengelolaannya juga berbeda.
Simpanan dapat ditarik kembali sesuai dengan akadnya, sedangkan wakaf memiliki ketentuan tersendiri dan pokok harta wakaf harus dijaga.
Tetapi ada satu kesamaan yang menurut saya menarik untuk kita lihat.
Simpanan anggota bukan milik BMT.
Wakaf uang juga bukan milik BMT.
Keduanya berasal dari masyarakat dan dipercayakan kepada lembaga untuk dikelola.
Bedanya, simpanan menjadi sumber dana yang digunakan dalam kegiatan Tamwil, sedangkan wakaf uang dikelola sebagai harta wakaf sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Karena itu, kita tidak boleh menyamakan keduanya.
Tetapi kita juga jangan sampai gagal melihat potensi strategisnya bagi BMT.
Tamwil menghimpun simpanan untuk memperkuat kemampuan pembiayaan dan kegiatan usahanya.
Baitul Maal dapat menghimpun wakaf uang untuk membangun dan mengembangkan aset wakaf yang memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Dengan pengelolaan wakaf yang tepat, wakaf uang tidak berhenti sebagai dana yang dihimpun.
Ia dapat menjadi aset yang terus memberikan manfaat.
Di sinilah saya melihat ada sesuatu yang selama ini kurang diperhatikan.
Ketika Tamwil berhasil menghimpun simpanan dalam jumlah besar, kita mengatakan:
BMT memiliki kemampuan menghimpun dana masyarakat.
Bahkan kemampuan menghimpun simpanan sering menjadi salah satu ukuran kekuatan Tamwil.
Lalu ketika Baitul Maal berhasil menghimpun wakaf uang dalam jumlah besar, mengapa kita tidak melihatnya juga sebagai kemampuan BMT membangun kekuatan melalui sumber daya masyarakat?
Bukan karena wakaf uang sama dengan simpanan.
Bukan.
Tetapi karena keduanya menunjukkan bahwa BMT tidak hanya memiliki kemampuan untuk menjalankan aktivitas setelah dana tersedia.
BMT juga memiliki kemampuan untuk membangun sumber daya melalui kepercayaan masyarakat.
Tamwil melakukannya melalui simpanan.
Baitul Maal dapat melakukannya melalui wakaf.
Dan di sinilah cara pandang terhadap Baitul Maal perlu diperluas.
Baitul Maal bukan hanya tempat dana masuk kemudian disalurkan.
Baitul Maal juga dapat menghimpun dan membangun aset yang manfaatnya berlangsung lebih panjang.
Kalau Tamwil membangun kekuatan melalui penghimpunan simpanan, maka Maal juga dapat membangun kekuatan melalui penghimpunan wakaf.
Keduanya berbeda.
Tetapi keduanya sama-sama dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat BMT.
Lalu, Apa yang Sebenarnya Dihasilkan Baitul Maal?
Di sinilah menurut saya letak kesalahan cara pandang kita.
Kita terbiasa melihat Tamwil secara lengkap.
Himpun → kelola → salurkan → menghasilkan pendapatan.
Ketika Tamwil menyalurkan pembiayaan, ada margin atau pendapatan sesuai akad.
Pendapatan tersebut menjadi bagian dari kekuatan ekonomi BMT.
Lalu ketika melihat Maal, kita sering hanya melihat:
Himpun → salurkan → uang keluar.
Padahal prosesnya tidak berhenti di sana.
Ada fundraising.
Ada pengelolaan.
Ada pelayanan.
Ada relationship.
Ada pemberdayaan.
Dan dalam pengelolaan dana sosial terdapat mekanisme hak amil sesuai ketentuan yang berlaku.
Dalam pengelolaan wakaf juga terdapat hak dan mekanisme pengelolaan oleh nazhir sesuai ketentuan wakaf.
Tentu hak amil bukan laba.
Hak nazhir juga bukan margin pembiayaan.
Keduanya memiliki dasar, tujuan dan ketentuan yang berbeda.
Tetapi dari sisi ekonomi kelembagaan, ada hal yang perlu kita lihat.
Tamwil memiliki aktivitas yang menghasilkan pendapatan bagi BMT.
Maal juga memiliki aktivitas pengelolaan yang memiliki sumber pembiayaan pengelolaan sesuai ketentuan.
Artinya, ketika kita membangun Maal, kita tidak sedang membangun sebuah unit yang hanya mengeluarkan biaya.
Kita sedang membangun sebuah fungsi yang memiliki aktivitas penghimpunan, pengelolaan, pelayanan dan pemberdayaan, serta memiliki mekanisme pembiayaan pengelolaan tersendiri.
Di sinilah saya melihat bahwa Maal dan Tamwil sebenarnya berada pada dua sisi yang berbeda, tetapi keduanya dapat sama-sama memperkuat ekonomi BMT.
Tamwil memperkuat BMT melalui aktivitas bisnisnya.
Maal memperkuat BMT melalui pengelolaan dana sosial, penghimpunan sumber daya masyarakat, pembangunan aset wakaf, jaringan donatur dan wakif, serta mekanisme pengelolaan yang melekat pada aktivitas tersebut.
Jadi, saya tidak sedang mengatakan bahwa Maal harus menghasilkan laba seperti Tamwil.
Bukan itu ukurannya.
Yang ingin saya katakan adalah:
Jangan menggunakan ukuran Tamwil untuk menilai Maal, tetapi jangan pula menganggap bahwa karena ukurannya berbeda maka Maal tidak memiliki kontribusi ekonomi bagi BMT.
Bukankah Berarti Maal Tetap Membutuhkan Biaya?
Tentu.
Saya tidak bermaksud menyangkalnya.
Baitul Maal membutuhkan biaya.
Tetapi Tamwil juga membutuhkan biaya.
Marketing membutuhkan biaya.
SDM membutuhkan biaya.
Teknologi membutuhkan biaya.
Kantor membutuhkan biaya.
Operasional membutuhkan biaya.
Tidak ada organisasi yang berjalan tanpa biaya.
Karena itu, menurut saya pertanyaan yang lebih tepat bukan:
“Apakah Maal membutuhkan biaya?”
Jawabannya sudah jelas: iya.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apa yang dilakukan Maal dengan biaya tersebut, dan apa yang dihasilkan dari aktivitasnya?”
Ini dua pertanyaan yang berbeda.
Saya juga tidak mengatakan bahwa Baitul Maal harus selalu mandiri secara finansial.
Adanya hak amil pun bukan berarti seluruh biaya Maal otomatis harus ditutup dari sana.
Dan sebaliknya, adanya dukungan dari organisasi juga tidak otomatis menjadikan Maal sebagai beban.
Membutuhkan biaya tidak sama dengan menjadi beban.
Marketing Tamwil membutuhkan biaya karena organisasi ingin membangun bisnis.
Baitul Maal juga membutuhkan biaya karena organisasi ingin menjalankan fungsi sosialnya, menghimpun dana masyarakat, membangun kepercayaan dan menghasilkan manfaat.
Maka yang perlu dilihat bukan hanya:
“Berapa biaya yang dikeluarkan untuk Maal?”
Tetapi juga:
“Apa kontribusi Maal terhadap BMT?”
Baitul Maal Memiliki Ekosistemnya Sendiri
Selama ini kita sering mengatakan Tamwil memiliki pasar.
Ada calon anggota.
Ada anggota.
Ada nasabah.
Ada penyimpan.
Ada calon pengguna pembiayaan.
Karena itu Tamwil membangun marketing dan database.
Baitul Maal mungkin tidak memiliki pasar dalam pengertian yang sama.
Tetapi Maal memiliki ekosistem penghimpunan.
| Tamwil | Maal |
|---|
| Calon anggota | Calon muzaki |
| Anggota | Donatur |
| Penyimpan | Wakif |
| Marketing | Fundraiser |
| Database anggota | Database donatur/wakif |
| Relationship anggota | Relationship donatur |
| Promosi produk | Kampanye program |
| Pelayanan anggota | Pelayanan donatur |
Ketika fundraising Maal kecil, kita sering menyimpulkan:
“Masyarakat memang sulit diajak berdonasi.”
Padahal belum tentu.
Bisa jadi lembaganya yang belum cukup serius membangun ekosistem tersebut.
Belum cukup mengenal calon donatur.
Belum memiliki database yang baik.
Belum membangun komunikasi secara rutin.
Belum memberikan laporan yang baik.
Belum menjaga hubungan setelah seseorang berdonasi.
Kalau demikian, persoalannya bukan semata-mata masyarakat tidak mau memberikan dana.
Bisa jadi kemampuan fundraising lembaganya yang belum dibangun.
Maal dan Tamwil Sebenarnya Bisa Saling Membuka Pintu
Di sinilah saya melihat hubungan yang menarik antara Maal dan Tamwil.
Seseorang bisa mengenal BMT pertama kali melalui Maal.
Ia melihat program sosial.
Ia berdonasi.
Ia kemudian mengenal lembaganya.
Suatu ketika ia membutuhkan layanan keuangan dan akhirnya menjadi anggota Tamwil.
Begitu pula sebaliknya.
Seseorang awalnya menjadi anggota Tamwil.
Ia memiliki pengalaman dengan BMT.
Kemudian mendapatkan edukasi tentang zakat.
Ia menjadi muzaki.
Setelah mengenal wakaf, ia menjadi wakif.
Jadi, orang yang sama bisa saja berada dalam beberapa hubungan sekaligus.
Anggota bisa menjadi donatur.
Donatur bisa menjadi anggota.
Anggota bisa menjadi muzaki.
Muzaki bisa menjadi wakif.
Ini bukan sesuatu yang otomatis terjadi.
Tetapi merupakan potensi hubungan yang dapat dibangun ketika Maal dan Tamwil sama-sama dikelola dengan baik.
Karena itu saya kira kurang tepat jika Maal dan Tamwil dipandang sebagai dua bagian yang sama sekali tidak memiliki hubungan.
Fungsi dan dana memang harus dipisahkan dengan jelas.
Akad harus jelas.
Pengelolaan harus jelas.
Tetapi dalam hubungan dengan masyarakat, keduanya dapat saling membuka pintu.
Maal bisa menjadi pintu seseorang mengenal BMT. Tamwil juga bisa menjadi pintu seseorang mengenal Maal.
Kalau Maal Dibesarkan, Apa yang Terjadi pada BMT?
Ini pertanyaan yang menurut saya justru penting bagi pimpinan BMT.
Jangan hanya bertanya:
“Berapa biaya yang dibutuhkan Maal?”
Coba balik pertanyaannya.
Bagaimana kalau Maal tumbuh besar?
Misalnya fundraising zakat dan infak meningkat.
Maka dana yang dikelola Maal meningkat.
Program bisa berkembang.
Jangkauan penerima manfaat bertambah.
Dan dalam pengelolaan zakat, terdapat hak amil sesuai ketentuan yang berlaku.
Kemudian bagaimana kalau wakaf uang berkembang?
Dana atau aset wakaf yang dikelola bertambah.
Jaringan wakif bertambah.
Kepercayaan masyarakat kepada lembaga bertambah.
Dalam pengelolaan wakaf terdapat mekanisme hak dan pengelolaan nazhir sesuai ketentuan.
Bagaimana kalau syiar Maal semakin luas?
Semakin banyak orang mengenal BMT.
Bagaimana kalau database donatur semakin besar?
BMT memiliki jaringan masyarakat yang semakin luas.
Bagaimana kalau donatur tersebut kemudian mengenal layanan Tamwil?
Sebagian mungkin berpotensi menjadi anggota.
Sebaliknya, bagaimana kalau anggota Tamwil semakin mengenal program Maal?
Sebagian mungkin berpotensi menjadi muzaki atau wakif.
Maka hubungan sederhananya dapat digambarkan seperti ini:
Maal tumbuh
↓
Fundraising meningkat
↓
Donatur, muzaki, wakif bertambah
↓
Jaringan masyarakat semakin luas
↓
Kepercayaan kepada BMT semakin kuat
↓
Potensi hubungan dengan Tamwil semakin besar
Bukan berarti semua itu otomatis terjadi.
Tetapi potensinya ada.
Dan potensi tersebut baru bisa muncul kalau Maal memang dibangun.
Pemberdayaan Maal Juga Menciptakan Aktivitas Ekonomi
Hal yang sama terlihat dalam program pemberdayaan ekonomi.
Misalnya Baitul Maal memberikan bantuan modal kepada seorang dhuafa.
Kalau hanya memberikan uang, mungkin program selesai ketika bantuan diberikan.
Tetapi kalau orientasinya pemberdayaan, prosesnya bisa lebih panjang.
Ada pendampingan.
Ada peningkatan keterampilan.
Ada pembinaan usaha.
Ada proses agar penerima manfaat memiliki penghasilan yang lebih baik.
Ketika usahanya berkembang, kebutuhan ekonominya juga dapat berubah.
Pada kondisi tertentu, apabila memenuhi syarat dan sesuai kebijakan, orang tersebut mungkin kemudian membutuhkan layanan pembiayaan dari Tamwil.
Sekali lagi, bukan berarti setiap mustahik harus menjadi nasabah.
Bukan pula setiap program Maal harus berakhir dengan pembiayaan Tamwil.
Tetapi kita tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa:
pemberdayaan ekonomi menciptakan aktivitas ekonomi.
Maal dapat bekerja pada tahap awal.
Tamwil dapat bekerja pada tahap berikutnya.
Keduanya tidak harus saling menggantikan.
Justru bisa saling melengkapi.
Jadi, Apakah Baitul Maal Menghasilkan?
Sekarang kita kembali kepada pertanyaan awal.
Apakah Baitul Maal menghasilkan?
Menurut saya, ya.
Tetapi kita harus berhati-hati dengan kata menghasilkan.
Menghasilkan tidak selalu berarti menghasilkan laba.
Tamwil menghasilkan pendapatan dari aktivitas bisnisnya.
Maal menghasilkan dalam bentuk yang berbeda.
Maal menghasilkan dana yang berhasil dihimpun.
Menghasilkan donatur dan wakif yang terhubung dengan lembaga.
Menghasilkan kepercayaan.
Menghasilkan jaringan masyarakat.
Menghasilkan literasi dan edukasi.
Menghasilkan pemberdayaan.
Menghasilkan manfaat sosial.
Dan dalam jangka tertentu, aktivitas tersebut dapat membuka hubungan dan aktivitas ekonomi baru bagi keseluruhan ekosistem BMT.
Jadi, hasil Maal memang tidak bisa diukur dengan rumus yang sama dengan Tamwil.
Tetapi bukan berarti tidak bisa diukur.
Mungkin Selama Ini Kita Salah Menghitung
Tamwil kita ukur dengan banyak indikator:
- berapa simpanan,
- berapa pembiayaan,
- berapa pendapatan,
- berapa anggota,
- berapa nasabah,
- berapa pertumbuhan.
Lalu ketika melihat Maal, sering kali ukuran kita berhenti pada:
- berapa donasi,
- berapa yang disalurkan,
- berapa biaya operasional.
Menurut saya, ukuran itu belum lengkap.
Kita juga perlu bertanya:
| Yang perlu diukur di Maal | Mengapa penting |
|---|
| Dana ZIS yang dihimpun | Mengukur kemampuan fundraising |
| Jumlah muzaki/donatur | Mengukur luasnya jaringan |
| Donatur rutin | Mengukur kualitas relationship |
| Wakif baru | Mengukur perkembangan wakaf |
| Dana/aset wakaf yang dikelola | Mengukur kapasitas pengelolaan wakaf |
| Database masyarakat | Mengukur aset jaringan |
| Penerima manfaat | Mengukur jangkauan program |
| Penerima manfaat yang berdaya | Mengukur kualitas pemberdayaan |
| Donatur yang menjadi anggota | Melihat potensi hubungan dengan Tamwil |
| Anggota yang menjadi muzaki/wakif | Melihat sinergi Tamwil–Maal |
Dengan cara pandang seperti ini, kita mulai melihat sesuatu yang sebelumnya sering tidak terlihat.
Baitul Maal bukan sekadar tempat uang masuk lalu uang keluar.
Di dalamnya ada aktivitas penghimpunan.
Ada pengelolaan sumber daya.
Ada komunikasi.
Ada pelayanan.
Ada relationship.
Ada pembangunan jaringan.
Ada pemberdayaan.
Ada kepercayaan yang dibangun.
Dan ada nilai yang diciptakan.
Baitul Maal Tidak Harus Menjadi Tamwil
Namun ada satu batas yang menurut saya harus tetap dijaga.
Membicarakan sisi ekonomi Baitul Maal bukan berarti kita ingin menjadikan Maal sebagai Tamwil.
Maal bukan lembaga pembiayaan.
Maal bukan tempat mengejar margin.
Dana zakat tidak boleh diperlakukan sebagai modal bisnis sesuka hati.
Dana wakaf memiliki ketentuan sendiri.
Dana infak dan sedekah juga harus dikelola sesuai peruntukannya.
Jadi bukan itu persoalannya.
Persoalannya adalah bagaimana kita menilai keberadaan Maal di dalam organisasi.
Kalau kita hanya melihat biaya, maka Maal memang terlihat sebagai pengeluaran.
Tetapi kalau kita melihat keseluruhan prosesnya, kita akan menemukan bahwa Maal juga melakukan penghimpunan, pengelolaan, pelayanan, pembangunan jaringan, pemberdayaan dan penciptaan manfaat.
Maal memang berbeda dengan Tamwil.
Tetapi berbeda bukan berarti tidak menghasilkan.
Dan berbeda bukan berarti menjadi beban.
Kalau Baitul Maal Dibesarkan, BMT Ikut Mendapat Manfaat
Pada akhirnya, menurut saya persoalannya bukan:
“Apakah Tamwil harus membiayai Maal?”
Pertanyaan itu terlalu sempit.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apa yang terjadi pada BMT jika Baitul Maal dibangun dan dibesarkan?”
Kalau fundraising tumbuh, dana yang dihimpun bertambah.
Kalau donatur bertambah, jaringan masyarakat bertambah.
Kalau wakif bertambah, dana dan aset wakaf yang dikelola bertambah.
Kalau syiar semakin luas, semakin banyak orang mengenal BMT.
Kalau hubungan dengan masyarakat semakin kuat, semakin banyak pintu yang terbuka.
Kalau pemberdayaan ekonomi berkembang, semakin banyak aktivitas ekonomi masyarakat yang tercipta.
Dan di antara semua itu, terdapat kemungkinan hubungan dengan Tamwil.
Bukan otomatis.
Bukan dipaksakan.
Tetapi terbuka.
Karena itu saya melihat Baitul Maal bukan sebagai bagian yang harus terus-menerus dipertanyakan:
“Kapan bisa mandiri dan tidak membebani Tamwil?”
Melainkan sebagai bagian dari BMT yang juga perlu ditanya:
“Kalau dibangun dengan serius, sebesar apa kontribusinya bagi BMT?”
Itulah pertanyaan yang menurut saya lebih penting.
Sebab Baitul Maal memang tidak menghasilkan dengan cara Tamwil.
Tetapi Baitul Maal juga bukan sekadar tempat menghabiskan uang.
Ia menghimpun.
Ia mengelola.
Ia membangun kepercayaan.
Ia membangun jaringan.
Ia menciptakan manfaat.
Ia memberdayakan.
Dan ketika tumbuh dengan baik, yang tumbuh bukan hanya Maal.
BMT secara keseluruhan yang berpeluang memperoleh manfaat