Tamwil Bisa Berdiri Sendiri, Maal Bisa Berdiri Sendiri. Lalu Mengapa BMT Menggabungkan Keduanya?

Oleh: Mahatma Yusuf (Praktisi Baitul Maal BMT selama 12 tahun)

Saya cukup sering memikirkan satu pertanyaan sederhana:

Kalau lembaga semacam Baitul Maal di BMT bisa berjalan tanpa Baitut Tamwil, dan Baitut Tamwil juga bisa berjalan tanpa Baitul Maal, lalu sebenarnya mengapa konsep BMT sejak awal menggabungkan keduanya?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana.

Tetapi semakin dipikirkan, jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.

Karena kalau Maal dan Tamwil memang harus selalu bersama agar bisa hidup, tentu kita akan kesulitan menemukan lembaga yang hanya menjalankan salah satunya.

Faktanya, Lembaga Amil Zakat bisa berjalan tanpa Tamwil.

Begitu juga lembaga keuangan atau koperasi yang menjalankan fungsi Tamwil dapat tetap melakukan kegiatan usaha tanpa mengelola Baitul Maal.

Artinya, penggabungan Maal dan Tamwil dalam BMT bukan karena salah satunya tidak bisa hidup tanpa yang lain.

Lalu, untuk apa digabung?

Menurut saya, justru di situlah menariknya konsep BMT.

BMT memang sejak awal membawa dua fungsi

BMT adalah singkatan dari Baitul Maal wat Tamwil.

PINBUK menjelaskan dua fungsi tersebut secara sederhana: Baitul Maal menjalankan layanan keuangan sosial Islam dengan menghimpun dan mengelola ZISWAF serta dana sosial lainnya, sedangkan Baitut Tamwil menjalankan layanan keuangan komersial syariah untuk mengembangkan usaha produktif dan mendukung kegiatan ekonomi masyarakat mikro dan kecil.

KNEKS juga menggambarkan BMT sebagai lembaga yang menyatukan fungsi sosial dan fungsi bisnis. Dalam kondisi ideal, keduanya diharapkan berjalan secara seimbang agar BMT tidak hanya menjadi lembaga yang berorientasi pada bisnis, tetapi juga tetap mempunyai fungsi sosial.

Jadi sejak konsepnya, BMT memang bukan sekadar lembaga pembiayaan.

Ada Baitul Maal.

Ada Baitut Tamwil.

Dua fungsi. Satu ekosistem.

Tetapi sekali lagi, dua fungsi tersebut tidak berarti harus saling menjadi syarat hidup.

Bukan karena Maal membutuhkan Tamwil

Coba kita lihat dari sisi Maal.

Sebuah Baitul Maal bisa saja:

menghimpun zakat, menghimpun infak dan sedekah, menyalurkan bantuan, memberdayakan masyarakat,

bahkan membangun program ekonomi, tanpa mempunyai usaha pembiayaan komersial.

BAZNAS dan Lembaga Amil Zakat adalah contoh paling mudah untuk melihat bahwa fungsi pengelolaan dana sosial dapat dijalankan sebagai lembaga tersendiri.

Jadi Lembaga semacam Baitul Maal BMT tidak membutuhkan Tamwil untuk membuktikan bahwa dirinya berguna.

Dan ada satu hal lagi yang menurut saya perlu dibedakan.

Apakah alasan BMT memiliki Maal hanya untuk mendapatkan keberkahan dari aktivitas sosial?

Tentu keberkahan adalah nilai yang sangat penting.

Tetapi kalau alasannya tentang keberkahan, bukankah laba Tamwil juga bisa disedekahkan?

BMT bisa mengambil sebagian keuntungan Tamwil untuk membantu masyarakat.

Lalu mengapa harus membangun fungsi Maal dengan kegiatan fundraising, pengelolaan donatur, program, penyaluran, pemberdayaan, dan berbagai sistem pendukungnya?

Artinya, keberadaan Maal tentu memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar tempat menyalurkan sebagian keuntungan.

Maal memiliki fungsi untuk menghimpun sumber daya sosial, membangun hubungan dengan donatur dan masyarakat, menjalankan program, menyalurkan dana, dan melakukan pemberdayaan.

Jadi Maal bukan hanya tempat uang dikeluarkan.

Maal juga memiliki aktivitas untuk menghimpun dan menciptakan nilai dari hubungan dengan masyarakat.

Tamwil juga tidak membutuhkan Maal untuk menjalankan bisnis

Begitu pula sebaliknya.

Sebuah lembaga keuangan mikro bisa:

menghimpun simpanan, menyalurkan pembiayaan, mengembangkan usaha anggota, dan menjalankan kegiatan ekonominya tanpa mempunyai divisi Maal.

Secara bisnis, kegiatan Tamwil tetap bisa berjalan.

Jadi kalau begitu, sekali lagi:

Mengapa disatukan?

Jawabannya, menurut saya, mulai terlihat ketika kita tidak lagi melihat Maal dan Tamwil sebagai dua lembaga yang saling membutuhkan.

Kita melihatnya sebagai dua fungsi yang berada di dalam masyarakat yang sama.

Satu masyarakat, dua kebutuhan

Bayangkan sebuah komunitas.

Di dalamnya ada:

orang yang memiliki usaha tetapi kekurangan modal,

orang yang punya kemampuan menabung,

orang yang sudah mampu dan wajib berzakat,

orang yang ingin bersedekah,

orang yang sedang mengalami kesulitan,

orang yang punya usaha tetapi belum mampu mengakses lembaga keuangan,

dan orang yang sebenarnya bisa berkembang jika mendapatkan pendampingan.

Kalau kita hanya mempunyai Tamwil, kita bisa membantu orang yang sudah relatif siap masuk ke aktivitas ekonomi.

Tetapi bagaimana dengan orang yang belum siap?

Di sinilah fungsi Maal dapat mengambil peran.

Maal bisa membantu mengatasi hambatan yang membuat seseorang belum mampu berdiri sendiri.

Kemudian, ketika ia mulai berkembang, ada kemungkinan ia masuk ke kegiatan ekonomi yang lebih produktif.

Di sinilah Tamwil bisa mengambil peran.

Jadi hubungan keduanya bukan:

“Maal membutuhkan uang Tamwil.”

atau:

“Tamwil membutuhkan uang Maal.”

Tetapi:

“Keduanya melayani masyarakat, dengan kebutuhan yang berbeda.”

Bahkan bisa dikatakan BMT mempunyai dua pintu untuk menggarap masyarakat.

Baca Juga  Mondragon, Koperasi atau Korporasi?

Maal melalui fungsi sosial.

Tamwil melalui fungsi ekonomi.

Keduanya tidak harus melayani orang yang sama dengan cara yang sama.

Tetapi keduanya berada dalam satu ekosistem masyarakat.

Dari membantu sampai mandiri

Menurut saya, inilah salah satu alasan paling masuk akal mengapa konsep Maal dan Tamwil dipertemukan.

Seseorang bisa saja berada pada tahap:

belum mampu

dibantu

diberdayakan

mulai menghasilkan

membutuhkan modal

mengembangkan usaha

menjadi lebih mandiri

Dalam tahap awal, fungsi Maal bisa lebih relevan.

Dalam tahap berikutnya, fungsi Tamwil bisa menjadi lebih relevan.

KNEKS menjelaskan bahwa penggabungan fungsi sosial dan komersial BMT memang dimaksudkan untuk menjawab persoalan double bottom line: pengembangan ekonomi sekaligus pemberdayaan masyarakat. Fungsi sosial dapat digunakan untuk distribusi aset dan pinjaman kebajikan, sedangkan fungsi komersial memberikan akses layanan keuangan kepada masyarakat yang belum terjangkau perbankan.

Jadi idealnya bukan:

Maal berjalan ke satu arah dan Tamwil berjalan ke arah lain.

Tetapi ada perjalanan seseorang di dalam ekosistem BMT.

Yang dibutuhkan bukan pencampuran dana, tetapi hubungan antarfungsi

Ini penting.

Ketika berbicara tentang integrasi Maal dan Tamwil, bukan berarti dana zakat kemudian digunakan sebagai dana pembiayaan komersial.

Bukan itu.

Masing-masing dana mempunyai amanah dan aturan pengelolaannya.

Yang bisa diintegrasikan adalah:

hubungan dengan anggota, akses masyarakat, pemberdayaan, informasi yang memang boleh digunakan, jaringan, infrastruktur, dan proses pelayanan.

Dengan kata lain:

Dananya boleh berbeda, tetapi ekosistemnya bisa saling terhubung.

Ini sebenarnya masuk akal.

Karena orang yang sama bisa mempunyai beberapa peran dalam kehidupannya.

Hari ini menjadi anggota.

Besok menjadi pengusaha.

Kemudian menjadi donatur.

Dan suatu saat mungkin menjadi muzaki.

BMT sebenarnya mempunyai peluang yang tidak dimiliki lembaga lain

Bayangkan Lembaga Amil Zakat berdiri sendiri.

Ia harus membangun:

database masyarakat, kepercayaan, jaringan, komunikasi, program, channel penghimpunan.

Tamwil/Koperasi juga membangun:

anggota, jaringan usaha, hubungan dengan pelaku UMKM, kantor cabang, relationship officer, sistem informasi.

Kalau keduanya berada dalam satu ekosistem, ada kemungkinan sebagian hubungan dan infrastruktur tersebut dapat saling memperkuat.

Jadi nilai penggabungannya bukan semata-mata:

“Maal membantu Tamwil.”

atau:

“Tamwil membiayai Maal.”

Tetapi:

“Satu lembaga mempunyai dua pintu pelayanan untuk masyarakat.”

Dan dari dua pintu tersebut ada potensi penciptaan nilai yang berbeda.

Tamwil menciptakan nilai terutama melalui aktivitas ekonomi dan transaksi.

Maal menciptakan nilai melalui penghimpunan dana sosial, relationship, pemberdayaan, dan jaringan masyarakat.

Karena itu, ketika keduanya berada dalam satu BMT, yang dapat digabungkan bukan uangnya, tetapi potensi nilai ekonomi, finansial, sosial, dan relationship yang muncul dari dua fungsi tersebut.

Bukan berarti setiap aktivitas Maal otomatis menjadi keuntungan Tamwil.

Tetapi terlalu sederhana jika kita hanya melihat:

Tamwil = menghasilkan uang.
Maal = mengeluarkan uang.

Keduanya sama-sama memiliki aktivitas yang membutuhkan sumber daya dan dapat menciptakan nilai, hanya saja cara menciptakan nilai dan tujuan penggunaan dananya berbeda.

Lalu bagaimana kalau Maal sudah besar dan mandiri?

Ini pertanyaan yang menurut saya juga penting. Bagaimana kalau suatu saat Maal sudah besar?

Fundraising-nya sudah kuat.

Donaturnya sudah banyak.

Dan Maal bahkan sudah mampu membiayai operasionalnya sendiri.

Apakah kemudian Maal harus dipisahkan dari BMT?

Menurut saya, belum tentu.

Karena sejak awal Maal dan Tamwil tidak digabungkan karena Maal tidak mampu hidup sendiri.

Kalau Maal sudah mampu membiayai operasionalnya sendiri, berarti Maal sudah memiliki kapasitas yang kuat.

Tetapi mandiri secara finansial tidak sama dengan tidak membutuhkan integrasi.

Bahkan ketika Maal sudah mampu membiayai dirinya sendiri, ia tetap memiliki jaringan donatur, hubungan dengan masyarakat, program pemberdayaan, dan kepercayaan sosial.

Tamwil tetap memiliki anggota, jaringan cabang, aktivitas ekonomi, teknologi, dan hubungan bisnis.

Selama keduanya masih berada dalam satu BMT, kekuatan tersebut tetap dapat saling memperkuat.

Maka Maal yang sudah mandiri tidak otomatis menjadi alasan untuk dipisahkan.

Justru hubungan keduanya bisa berubah:

bukan lagi hubungan antara unit yang membiayai dan unit yang dibiayai,

tetapi hubungan antara dua fungsi yang sama-sama memiliki kapasitas dan sama-sama menciptakan nilai.

Dan karena itu, jangan sampai kita menuntut Maal menghasilkan target tertentu tanpa terlebih dahulu membangun kapasitasnya.

Kalau ingin Maal menjadi mesin fundraising, maka perlu dibangun:

orangnya, sistemnya, databasenya, kanalnya, programnya, marketingnya, jaringannya, dan mekanisme evaluasinya.

Baru setelah itu kita bicara target.

Sebab kalau kapasitas tidak dibangun, tetapi hasil tetap dituntut, lalu hasil yang kecil dijadikan alasan bahwa Maal tidak penting, kita sebenarnya sedang menilai hasil dari sebuah mesin yang belum pernah dibangun secara serius.

Lalu mengapa dalam praktik keduanya sering tidak menyatu?

Ini bagian yang menurut saya justru perlu kita renungkan.

Secara konsep:

Maal + Tamwil

Baca Juga  Optimalisasi Koperasi Syariah sebagai Lembaga Pembiayaan UMKM Berkelanjutan

Tetapi dalam praktik:

Tamwil berjalan.

Maal berjalan sendiri.

Tamwil mempunyai target.

Maal mempunyai program.

Tamwil mempunyai marketing.

Maal mencari donasi ketika ada program.

Tamwil mempunyai sistem.

Maal mungkin hanya mempunyai rekening dan proposal.

Tamwil punya aktivitas setiap hari.

Maal ramai ketika Ramadan, Qurban, Muharram atau ketika ada bencana alam.

Akhirnya dua fungsi yang seharusnya berada dalam satu ekosistem justru menjadi seperti dua organisasi yang kebetulan berada di bawah nama BMT yang sama.

Di sinilah menurut saya konsep awal BMT mulai kehilangan sebagian potensinya.

Padahal penggabungan tidak harus berarti semua orang mengerjakan semuanya

Ini juga perlu diluruskan.

Ketika mengatakan Maal dan Tamwil perlu terhubung, bukan berarti semua karyawan harus mengerjakan seluruh pekerjaan Maal dan Tamwil sekaligus.

Tidak.

Sebuah organisasi tetap membutuhkan pembagian pekerjaan dan keahlian.

Yang penting adalah ada hubungan yang dirancang di antara fungsi tersebut.

Misalnya:

Tamwil mempunyai hubungan dengan anggota.

Maal mempunyai kebutuhan untuk mendapatkan donatur.

Tamwil tidak perlu menjadi fundraiser penuh.

Cukup ada mekanisme:

Tamwil menemukan peluang → Maal menangani.

Atau:

Maal mempunyai program → jaringan Tamwil membantu membuka akses.

Atau:

Maal memberdayakan seseorang → ketika sudah memenuhi syarat, Tamwil dapat memberikan layanan ekonomi yang sesuai.

Dengan demikian, pembagian kerja tetap jelas.

Tetapi fungsi tidak terisolasi.

Jadi, sebenarnya apa keuntungan menggabungkan Maal dan Tamwil?

Saya melihat setidaknya ada beberapa kemungkinan.

Pertama, satu komunitas dapat dilayani dari dua sisi.

Ada kebutuhan ekonomi.

Ada kebutuhan sosial.

BMT dapat hadir pada keduanya.

Kedua, hubungan dengan masyarakat dapat menjadi lebih panjang.

Seseorang tidak hanya dikenal sebagai nasabah pembiayaan.

Ia dapat menjadi anggota, pengusaha, donatur, muzaki, sekaligus bagian dari komunitas.

Ketiga, pemberdayaan dapat mempunyai jalur yang lebih lengkap.

Dari bantuan sosial menuju kemandirian ekonomi.

Keempat, infrastruktur tertentu dapat digunakan bersama.

Kantor, teknologi, komunikasi, jaringan, dan hubungan dengan masyarakat—selama penggunaannya dirancang dengan benar dan tidak mencampuradukkan amanah dana.

Kelima, BMT mempunyai identitas yang lebih lengkap.

Bukan hanya:

“lembaga yang memberikan pembiayaan.”

Tetapi:

“lembaga yang hadir dalam kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat.”

Keenam, ada peluang menciptakan nilai ekonomi dari dua fungsi sekaligus.

Tamwil mempunyai aktivitas ekonomi komersial.

Maal mempunyai aktivitas penghimpunan dana sosial dan pemberdayaan.

Keduanya dapat mempunyai mekanisme penciptaan nilai masing-masing.

Jadi saya kurang tepat kalau kita memulai dari asumsi:

Tamwil = menghasilkan uang.

Maal = menghabiskan uang.

Lebih fair kalau kita mengatakan:

Tamwil dan Maal sama-sama membutuhkan sumber daya, sama-sama mempunyai aktivitas yang dapat menciptakan nilai, tetapi model penciptaan nilai dan tujuan penggunaan dananya berbeda.

Dan ketika dua fungsi tersebut berada dalam satu ekosistem, potensi nilai ekonomi dan finansial yang dapat diciptakan BMT juga menjadi lebih luas.

Tetapi penggabungan bukan berarti otomatis menghasilkan sinergi

Ini juga penting.

Kita tidak boleh romantis terhadap konsep BMT.

Hanya karena Maal dan Tamwil berada dalam satu lembaga, bukan berarti keduanya otomatis saling menguntungkan.

Bisa saja terjadi:

Tamwil terlalu dominan.

Maal tidak berkembang.

Atau:

Maal terlalu banyak program.

Tamwil merasa terbebani.

Bisa juga:

keduanya berjalan sendiri-sendiri.

Jadi keberadaan dua fungsi saja belum cukup.

Yang menentukan adalah:

Apakah ada desain organisasi yang membuat keduanya benar-benar saling terhubung?

Mungkin inilah alasan mengapa konsep BMT sebenarnya menarik

BMT bukan sekadar:

Baitul Maal + Baitut Tamwil

dalam arti dua nama yang ditempelkan menjadi satu.

Tetapi sebuah upaya untuk membangun:

satu ekosistem ekonomi masyarakat yang mempunyai fungsi sosial dan fungsi usaha.

Kalau demikian, maka seharusnya kita tidak berhenti pada pertanyaan:

“Apakah BMT harus punya Baitul Maal?”

Pertanyaan yang lebih menarik adalah:

“Kalau Maal dan Tamwil sengaja ditempatkan dalam satu ekosistem, bagaimana seharusnya keduanya bekerja bersama?”

Dan di situlah saya mulai melihat persoalan yang lebih besar.

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk memperdebatkan:

“Maal harus membantu Tamwil atau Tamwil harus membantu Maal?”

Padahal mungkin pertanyaan yang benar:

“Bagaimana membuat Maal dan Tamwil sama-sama tumbuh karena berada dalam satu ekosistem?”

Karena kalau keduanya memang bisa berdiri sendiri, alasan mempertahankannya dalam satu BMT seharusnya bukan karena salah satunya tidak bisa hidup tanpa yang lain.

Alasannya harus karena:

bersama-sama mereka mampu menciptakan sesuatu yang lebih besar bagi masyarakat dan bagi keberlanjutan BMT.

Dan kalau itu memang alasan kita mempertahankan dua fungsi ini dalam satu lembaga, maka ada pertanyaan berikutnya yang tidak bisa dihindari:

Apakah selama ini kita benar-benar sudah memanfaatkan sinergi Maal dan Tamwil, atau kita hanya memiliki keduanya dalam satu struktur organisasi?

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *