Edumotivasi Berkoperasi
/0 Comments/in Artikel, Berita/by administratorEdumotivasi Berkoperasi
Oleh: Iko Musmulyadi (Sociopreneur dan Pegiat Koperasi)
Penulisan edumotivasi rutin pekanan oleh Bidang Koperasi dan Ekonomi Syariah mengacu pada tiga pemikiran: kesadaran amanah, pemahaman arah gerak, dan penguatan semangat kolektif.
Pertama, amanah menggerakkan ekonomi syariah.
Di pundak kita ada amanah mulia: menggerakkan ekonomi syariah melalui pendirian dan pengembangan Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS). Secara kedisinian, lembaga itu bernama KSPPS Hos Tjokroaminoto Bandung.
Nama H.O.S. Tjokroaminoto bukan sekadar identitas. Ia adalah simbol pergerakan ekonomi kerakyatan. Tjokroaminoto dikenal sebagai guru para tokoh besar bangsa dan pelopor kebangkitan kesadaran rakyat. Mengusung namanya berarti membawa pesan moral: koperasi ini bukan sekadar lembaga keuangan, tetapi instrumen pemberdayaan umat.
Secara konstitusional, koperasi memiliki landasan kuat. Pasal 33 UUD 1945 menegaskan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar asas kekeluargaan. Prinsip ini sejalan dengan nilai syariah: keadilan, kebersamaan, dan keberkahan.
Data nasional menunjukkan bahwa koperasi bukanlah entitas kecil. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM beberapa tahun terakhir, Indonesia memiliki lebih dari 120 ribu koperasi aktif dengan puluhan juta anggota. Kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional berada di kisaran 5%. Angka ini memang belum ideal, tetapi menunjukkan potensi besar jika dikelola profesional dan partisipatif.
Dalam konteks syariah, perkembangan KSPPS juga signifikan. Lembaga ini menjadi pintu inklusi keuangan bagi masyarakat yang belum terlayani bank (unbanked), terutama pelaku UMKM. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Artinya, kesadaran masyarakat terhadap ekonomi berbasis nilai semakin tumbuh.
Maka, mendirikan dan mengembangkan KSPPS bukan pekerjaan administratif. Ia adalah ikhtiar strategis untuk menghadirkan sistem keuangan yang adil, bebas riba, dan memberdayakan. Terlebih di kota Bandung tak sedikit masyarakat yang tercekik dan terlilit “Bank Emok”.
Kedua, memberikan informasi peta jalan yang akan dilalui koperasi kita selama setahun ke depan.
Karenanya, semoga tulisan-tulisan edumotivasi ini sampai ke semua anggota KBP, dibaca dan dipahami.
Berkoperasi, semangat saja tidak cukup. Gerakan membutuhkan arah. Karena itu, seluruh anggota perlu memahami peta jalan (roadmap) satu tahun ke depan.
KSPPS Hos Tjokroaminoto Bandung harus dibangun secara bertahap dan sistematis:
- Fase Pondasi: konsolidasi anggota pendiri, penyusunan AD/ART, legalitas, dan permodalan awal.
- Fase Penguatan Sistem: tata kelola (governance), SOP pembiayaan, manajemen risiko, dan sistem akuntansi syariah.
- Fase Ekspansi Terukur: peningkatan anggota, penyaluran pembiayaan produktif, dan kemitraan UMKM.
Sebagai ketua bidang Koperasi dan Ekonomi Syariah, saya berharap semua anggota KBP bersedia menjadi anggota pendiri. Karena koperasi berbeda dengan perusahaan. Dalam koperasi, anggota adalah pemilik sekaligus pengguna jasa. Semakin kuat rasa memiliki (sense of belonging), semakin tinggi tingkat partisipasi. Dan partisipasi adalah nyawa koperasi.
Pengalaman banyak koperasi menunjukkan: kegagalan sering bukan karena kurang modal, tetapi karena rendahnya keterlibatan anggota. Sebaliknya, koperasi yang sehat umumnya memiliki anggota yang aktif menabung, aktif memanfaatkan layanan, dan aktif mengawasi jalannya organisasi.
Dengan menjadi anggota pendiri, kita tidak hanya menyetor simpanan pokok dan wajib. Kita sedang menanam fondasi sejarah. Kita sedang membangun rumah besar ekonomi bersama.
Ketiga, mengubah persepsi: koperasi bukan ekonomi recehan.
Salah satu tantangan terbesar adalah persepsi. Di sebagian masyarakat, koperasi masih dipandang sebagai lembaga “kelas dua”, identik dengan pinjaman kecil dan administrasi seadanya.
Padahal realitas global membuktikan sebaliknya. Di banyak negara, koperasi menjadi tulang punggung ekonomi rakyat. Gerakan koperasi dunia bahkan memiliki lebih dari satu miliar anggota. Di sektor pertanian, keuangan, hingga ritel, koperasi mampu bersaing dengan korporasi besar.
Di Indonesia sendiri, banyak koperasi yang berhasil mengelola aset miliaran hingga triliunan rupiah, membiayai UMKM, membuka lapangan kerja, dan memperkuat daya tahan ekonomi lokal.
KSPPS, secara khusus, memiliki peran strategis dalam:
- Mendorong inklusi keuangan syariah.
- Memberikan pembiayaan berbasis akad yang adil (mudharabah, murabahah, musyarakah).
- Mengurangi ketergantungan masyarakat pada pinjaman berbunga tinggi.
- Menguatkan solidaritas ekonomi anggota.
Dalam perspektif pembangunan sosial, koperasi juga membangun modal sosial (social capital): kepercayaan, jejaring, dan solidaritas. Inilah yang sering tidak dimiliki oleh sistem ekonomi individualistik.
Berkoperasi adalah sebuah proses. Butuh kesabaran, disiplin, dan konsistensi. Tidak ada hasil instan. Tetapi justru di situlah nilai perjuangannya.
Kita tidak sedang membangun lembaga untuk satu atau dua tahun. Kita sedang menanam pohon yang buahnya bisa dinikmati generasi berikutnya. Setiap simpanan adalah komitmen. Setiap rapat adalah ikhtiar. Setiap partisipasi adalah amal kolektif.
Semangat berkoperasi harus dibangun atas tiga kesadaran:
- Kesadaran Ideologis: koperasi adalah amanah konstitusi dan nilai syariah.
- Kesadaran Ekonomis: koperasi adalah solusi konkret pemberdayaan anggota.
- Kesadaran Historis: kita meneruskan tradisi ekonomi kerakyatan yang telah dirintis para pendahulu.
Akhirnya, berkoperasi bukan sekadar mencari sisa hasil usaha (SHU). Berkoperasi adalah membangun keberkahan bersama. Ketika anggota kuat, koperasi kuat. Ketika koperasi kuat, umat pun bangkit.
Mari kita menjadi anggota yang bukan hanya terdaftar, tetapi terlibat. Bukan hanya berharap, tetapi berkontribusi. Bukan hanya menerima manfaat, tetapi menghadirkan manfaat.
Wallahu’alam.




Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!