Baitul Maal: The Next Leader
/0 Comments/in Artikel/by administratorBaitul Maal: The Next Leader
Oleh: Mahatma Yusuf (Praktisi Baitul Maal BMT selama 12 tahun)
Mengapa Kepemimpinan Masa Depan BMT Berpotensi Lahir dari Baitul Maal?
Dalam pembahasan mengenai perkembangan BMT, perhatian sering kali tertuju pada pertumbuhan aset, peningkatan pembiayaan, jumlah anggota, maupun kinerja bisnis. Hal tersebut tentu dapat dipahami karena fungsi Baitut Tamwil menjadi penggerak utama aktivitas ekonomi lembaga.
Namun seiring berkembangnya tantangan organisasi dan perubahan kebutuhan masyarakat, muncul sebuah pertanyaan yang menarik untuk didiskusikan.
Apakah pengalaman kepemimpinan di BMT hanya dapat dibentuk melalui pengelolaan fungsi bisnis?
Ataukah pengalaman mengelola fungsi sosial juga memiliki kontribusi yang sama pentingnya dalam membentuk karakter seorang pemimpin?
Pertanyaan ini mungkin tidak memiliki satu jawaban yang pasti. Namun jika dicermati lebih jauh, pengalaman mengelola Baitul Maal tampaknya memberikan ruang pembelajaran yang berbeda dibandingkan unit organisasi lainnya.
Dan mungkin justru dari pengalaman itulah tumbuh kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin.
Ketika Baitul Maal Dipandang Sebagai Pelengkap
Dalam praktiknya, tidak sedikit BMT yang masih memosisikan Baitul Maal sebagai pelengkap dari aktivitas bisnis.
Perannya lebih banyak dipahami sebagai pengelola zakat, infak, sedekah, dan wakaf, atau sebagai penyelenggara berbagai kegiatan sosial.
Padahal sejak awal, BMT dibangun di atas dua fungsi yang saling melengkapi.
Baitut Tamwil menjalankan fungsi ekonomi.
Sementara Baitul Maal menjalankan fungsi sosial.
Keduanya bukan dua organisasi yang saling bersaing.
Melainkan dua pilar yang bersama-sama membentuk identitas BMT.
Karena itu, ketika membicarakan pengembangan BMT, mungkin menarik pula untuk melihat apakah fungsi sosial tersebut juga memiliki kontribusi dalam menyiapkan kepemimpinan masa depan.
Pengalaman yang Membentuk Kepemimpinan
Ungkapan “Baitul Maal: The Next Leader” tidak perlu dimaknai bahwa Baitul Maal akan menggantikan peran Baitut Tamwil sebagai penggerak organisasi.
Ungkapan tersebut lebih tepat dipahami sebagai sebuah refleksi bahwa pengalaman mengelola Baitul Maal berpotensi membentuk berbagai kompetensi kepemimpinan yang dibutuhkan organisasi.
Bukan karena jabatannya.
Melainkan karena tantangan yang dihadapi setiap hari.
- Kepemimpinan Dimulai dari Kemampuan Melihat Tanggung Jawab
Tidak semua persoalan masyarakat datang sesuai prosedur.
Ketika ada keluarga yang membutuhkan bantuan, tidak selalu tersedia SOP yang menjelaskan seluruh langkah penyelesaiannya.
Dalam situasi seperti ini, pengelola Baitul Maal sering kali harus mengambil inisiatif.
Membangun komunikasi.
Mencari solusi.
Menghubungkan berbagai pihak.
Menggerakkan sumber daya yang tersedia.
Semua dilakukan karena ada kebutuhan nyata yang harus segera direspons.
Pengalaman seperti ini melatih seseorang untuk tidak hanya menunggu instruksi, tetapi mampu melihat tanggung jawab yang perlu diambil.
Dan kemampuan tersebut merupakan salah satu karakter penting dalam kepemimpinan.
- Belajar Bekerja Melampaui Uraian Tugas
Dalam organisasi, uraian tugas tetap diperlukan untuk menjaga kejelasan peran.
Namun persoalan sosial sering kali tidak berhenti pada apa yang tertulis dalam deskripsi pekerjaan.
Pengelola Baitul Maal dapat saja mendampingi penerima manfaat.
Membangun jejaring relawan.
Menjadi penghubung antara donatur dan masyarakat.
Mencari mitra.
Menyelesaikan persoalan yang sebelumnya tidak direncanakan.
Bukan karena seluruh pekerjaan tersebut menjadi kewajiban formalnya.
Melainkan karena kebutuhan masyarakat menuntut hadirnya solusi.
Pengalaman seperti ini menumbuhkan sense of ownership, yaitu rasa memiliki terhadap amanah dan organisasi.
Dan dalam banyak literatur kepemimpinan, rasa memiliki merupakan salah satu karakter yang membedakan pemimpin dari sekadar pelaksana tugas.
- Belajar Memimpin Tanpa Jabatan
Banyak teori kepemimpinan menyatakan bahwa pengaruh tidak selalu lahir dari jabatan.
Dalam konteks Baitul Maal, pengalaman tersebut terjadi hampir setiap hari.
Relawan bukan bawahan.
Donatur bukan karyawan.
Komunitas bukan bagian dari struktur organisasi.
Namun seluruhnya perlu diajak bergerak menuju tujuan yang sama.
Menggerakkan orang-orang yang tidak memiliki hubungan struktural membutuhkan kemampuan membangun kepercayaan, komunikasi, dan keteladanan.
Kemampuan seperti inilah yang menjadi salah satu bentuk kepemimpinan paling mendasar.
- Kepemimpinan Modern Dibangun Melalui Kolaborasi
Persoalan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, maupun pemberdayaan ekonomi tidak dapat diselesaikan oleh satu lembaga saja.
Karena itu, pengelola Baitul Maal hampir selalu berhadapan dengan kebutuhan untuk membangun kolaborasi.
Dengan masjid.
Pemerintah.
Komunitas.
Perguruan tinggi.
Perusahaan.
Media.
Lembaga sosial lainnya.
Semakin luas jejaring yang dibangun, semakin besar pula peluang menghadirkan dampak yang lebih luas.
Kemampuan membangun kolaborasi lintas sektor merupakan salah satu kompetensi yang semakin dibutuhkan dalam kepemimpinan organisasi modern.
- Mengambil Keputusan Berdasarkan Nilai
Tidak semua keputusan memiliki jawaban yang tersedia dalam SOP.
Sering kali kebutuhan masyarakat jauh lebih besar daripada sumber daya yang dimiliki.
Dalam situasi seperti ini, pengelola Baitul Maal dituntut mengambil keputusan yang bukan hanya tepat secara administratif, tetapi juga adil, bijaksana, dan mempertimbangkan berbagai aspek kemanusiaan.
Pengalaman menghadapi dilema seperti ini membentuk kemampuan menggunakan judgement.
Dan kemampuan mengambil keputusan berdasarkan nilai merupakan bagian penting dari kepemimpinan.
- Menjaga Amanah dan Membangun Kepercayaan
Modal terbesar Baitul Maal bukanlah besarnya dana yang dikelola.
Melainkan kepercayaan masyarakat.
Kepercayaan tersebut hanya dapat dijaga melalui amanah, transparansi, dan akuntabilitas.
Setiap hari pengelola Baitul Maal belajar bahwa kepercayaan membutuhkan waktu yang panjang untuk dibangun, tetapi dapat hilang hanya karena satu kesalahan.
Kesadaran inilah yang perlahan membentuk karakter seorang pemimpin.
Karena pada akhirnya, kepemimpinan selalu bertumpu pada kepercayaan.
Baitul Maal sebagai Ruang Pembelajaran Kepemimpinan Berbasis Nilai
Dalam banyak organisasi, kepemimpinan dikembangkan melalui pelatihan, pendidikan formal, maupun berbagai program pengembangan SDM.
Seluruhnya tentu memiliki peran yang penting.
Namun pengalaman nyata sering kali menjadi ruang belajar yang tidak tergantikan.
Dalam perspektif penulis, pengalaman mengelola Baitul Maal dapat dipandang sebagai ruang pembelajaran kepemimpinan berbasis nilai.
Di dalamnya seseorang belajar menghadapi persoalan masyarakat secara langsung.
Belajar mengambil keputusan.
Belajar menjaga amanah.
Belajar melayani.
Belajar bekerja dalam keterbatasan.
Belajar menggerakkan orang lain tanpa mengandalkan kekuasaan.
Pengalaman-pengalaman tersebut bukan hanya membentuk kemampuan teknis.
Tetapi juga membangun karakter yang menjadi fondasi kepemimpinan.
Investasi Jangka Panjang bagi BMT
Mengembangkan Baitul Maal bukan hanya berarti memperkuat fungsi sosial lembaga.
Dalam jangka panjang, pengembangan tersebut juga dapat menjadi investasi dalam membangun sumber daya manusia organisasi.
Seseorang yang tumbuh melalui pengalaman melayani masyarakat, membangun kolaborasi, menjaga amanah, dan menyelesaikan persoalan sosial berpotensi membawa perspektif yang berharga ketika kelak memegang tanggung jawab yang lebih besar.
Tentu tidak semua pengelola Baitul Maal akan menjadi pemimpin organisasi.
Dan kepemimpinan yang baik juga dapat lahir dari berbagai unit kerja lainnya.
Namun pengalaman yang diperoleh di Baitul Maal tampaknya memberikan proses pembelajaran yang unik dan layak mendapat perhatian.
Penutup
Selama ini, Baitut Tamwil sering dipandang sebagai lokomotif pertumbuhan BMT. Pandangan tersebut tentu memiliki dasar yang kuat karena fungsi bisnis merupakan penopang keberlangsungan lembaga.
Namun organisasi yang ingin bertahan dalam jangka panjang tidak hanya membutuhkan pertumbuhan ekonomi.
Ia juga membutuhkan pemimpin yang mampu membangun kepercayaan, menggerakkan kolaborasi, menjaga amanah, serta menghadirkan solusi bagi masyarakat.
Karakter-karakter tersebut tidak lahir secara instan.
Ia ditempa melalui pengalaman melayani, menghadapi persoalan nyata, mengambil keputusan yang sulit, serta keberanian mengambil tanggung jawab ketika keadaan menuntutnya.
Di sinilah Baitul Maal memiliki peran yang mungkin lebih luas daripada sekadar menghimpun dan menyalurkan dana sosial.
Ia dapat menjadi ruang tumbuhnya nilai.
Ruang belajar kepemimpinan.
Dan bukan tidak mungkin, ruang lahirnya pemimpin-pemimpin yang akan membawa BMT menghadapi tantangan masa depan.
Mungkin karena itulah ungkapan:
“Baitul Maal: The Next Leader”
lebih tepat dipahami bukan sebagai slogan, melainkan sebagai sebuah ajakan untuk melihat kembali potensi yang selama ini mungkin belum banyak kita sadari.


Kembalinya Keuangan Syariah Photo by Media 9

Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!