Cara Koperasi H.O.S Tjokroaminoto Kota Bandung Menghadapi Disrupsi QRIS (1)

Cara Koperasi H.O.S Tjokroaminoto Kota Bandung Menghadapi Disrupsi QRIS (1)

Oleh: Iko Musmulyadi (Sociopreneur dan Pegiat Koperasi)

KABAR Petang tvOneNews memberitakan penggunaan QRIS terus meluas, Bank Indonesia mencatat sistem pembayaran digital ini sudah digunakan sekitar 60 juta orang. QRIS dikembangkan sebagai standar tunggal pembayaran berbasis QR untuk menyatukan berbagai kode pembayaran digital yang sebelumnya tersebar.

Penulis mengajak para anggota Komunitas KBP sebagai calon pendiri KSPPS H.O.S Tjokroaminoto Bandung agar membaca dan memahami penjelasan ini.

Apa implikasi strategis disrupsi QRIS bagi Koperasi?
Dari diskusi penulis dengan teman-teman di group koperasi, mencatat beberapa point penting:

Pertama, setiap transaksi yang dilakukan pelanggan di merchant QRIS secara otomatis masuk ke rekening bank atau e-wallet penyedia layanan. Ini berarti terjadi effective funding, penghimpunan dana murah secara masif dan real time, bagi perbankan dan perusahaan dompet digital. Dana yang sebelumnya mungkin tersimpan dalam tabungan mikro di KSPPS, kini perlahan bergeser. Oleh karena itu, nantinya koperasi yang akan kita dirikan harus memiliki kesiapan teknologi maupun perizinan untuk mengadopsi QRIS secara optimal.

Kedua, seluruh data mutasi transaksi tercatat dan dikuasai oleh penyedia QRIS. Inilah kekuatan big data. Dari jutaan bahkan miliaran transaksi, terbentuklah profil perilaku keuangan para pelaku UMKM secara detail dan presisi. Data ini menjadi fondasi effective credit scoring, penilaian kelayakan pembiayaan berbasis data aktual, bukan sekadar pendekatan konvensional.

Ketiga, dengan analisis berbasis data tersebut, bank dan e-wallet dapat menyalurkan kredit atau pembiayaan secara cepat, tepat, dan terukur. Terjadilah effective credit/financing. Siapa yang menjadi sasaran? Tidak lain adalah para anggota atau nasabah koperasi. Secara perlahan, terjadi proses akuisisi pasar pembiayaan mikro.

Baca Juga  Baitul Maal Ikosindo, Selenggarakan Pelatihan Fundraising Ramadhan

Keempat, dari pembiayaan berbasis analisis data mutasi itu, lahirlah effective revenue, pendapatan yang stabil dan terukur bagi bank dan e-wallet. Pada saat yang sama, potensi pendapatan koperasi ikut tergerus. Bukan karena kalah niat atau kalah semangat, tetapi karena kalah dalam penguasaan teknologi dan data.

Maka pertanyaannya bukan lagi apakah QRIS itu baik atau buruk. QRIS adalah keniscayaan zaman. Pertanyaannya adalah: siapkah nantinya KSPPS H.O.S Tjokroaminoto Bandung menghadapi disrupsi ini?

Pilihan kita hanya dua: beradaptasi atau tergilas. Koperasi harus bersiap untuk “fight” dalam arti berfastabiqul khairat, berlomba dalam kebaikan, melalui penguasaan teknologi yang setara, termasuk memastikan aspek perizinannya. Transformasi digital bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan strategis.

Jika tidak, kita berisiko mengalami “mati pelan-pelan” karena kehilangan funding, kehilangan data, kehilangan anggota, dan akhirnya kehilangan relevansi. Bahkan bukan mustahil terjadi “mati mendadak” ketika ekosistem keuangan digital telah sepenuhnya mengambil alih.

Disrupsi QRIS bukan ancaman bagi yang siap, tetapi peringatan keras bagi yang lalai. Sejak awal pendirian, kita harus punya mindset koperasi berkelas, bukan sekadar bertahan, tetapi bertumbuh dengan strategi dan teknologi yang visioner.

Penutup

KSPPS H.O.S Tjokroaminoto Bandung sebagai koperasi yang baru berdiri, insya Allah justru berada pada posisi strategis: belum punya beban sistem lama, sehingga bisa langsung lahir sebagai koperasi digital-ready. Disrupsi QRIS bukan untuk ditakuti, tapi untuk diintegrasikan ke dalam model bisnis koperasi.

Lantas, bagaimana langkah konkret agar koperasi kita nantinya mampu adaptif dan kompetitif? (Bersambung)

Wallahu’alam

Bandung, 26 Februari 2026

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *