Apakah Baitul Maal BMT Memerlukan Visi Pengembangan?
/0 Comments/in Artikel/by administratorApakah Baitul Maal BMT Memerlukan Visi Pengembangan?
Oleh: Mahatma Yusuf (Praktisi Baitul Maal BMT selama 12 tahun)
Ketika Aktivitas Berjalan, tetapi Arah Belum Selalu Jelas
Di banyak BMT, Baitul Maal tetap menjalankan aktivitasnya dengan baik.
Menghimpun zakat, infak, sedekah, dan wakaf.
Menyalurkan bantuan kepada masyarakat.
Melaksanakan program sosial.
Menyusun laporan pertanggungjawaban.
Semua itu merupakan bagian penting dari amanah yang diemban Baitul Maal.
Namun di balik berbagai aktivitas tersebut, muncul sebuah pertanyaan yang menarik untuk didiskusikan.
Apakah seluruh aktivitas itu telah berjalan menuju arah pengembangan yang sama?
Ataukah Baitul Maal lebih banyak berkembang mengikuti kebutuhan dari waktu ke waktu, tanpa memiliki tujuan jangka panjang yang disepakati bersama?
Pertanyaan ini penting, karena organisasi tidak hanya membutuhkan aktivitas. Organisasi juga membutuhkan arah.
Aktivitas Tidak Selalu Berarti Ada Arah
Dalam manajemen organisasi, kesibukan bukanlah ukuran bahwa sebuah organisasi sedang berkembang.
Sebuah organisasi dapat memiliki banyak program, banyak kegiatan, bahkan banyak laporan. Namun tanpa arah yang jelas, setiap kegiatan sering kali berdiri sendiri-sendiri.
Hal yang sama dapat terjadi pada Baitul Maal BMT.
Program berubah setiap tahun.
Prioritas mengikuti momentum.
Target berganti ketika pengelola berganti.
Pergantian pimpinan menghadirkan kebijakan baru.
Akibatnya, Baitul Maal terus bergerak, tetapi sulit membangun perkembangan yang berkelanjutan.
Bukan karena pengelolanya tidak bekerja dengan baik.
Melainkan karena organisasi belum memiliki gambaran yang sama mengenai arah yang ingin dituju.
Visi Menjawab Pertanyaan yang Tidak Dijawab oleh Program Tahunan
Program kerja biasanya menjawab pertanyaan:
“Apa yang akan kita kerjakan tahun ini?”
Sedangkan visi menjawab pertanyaan yang jauh lebih mendasar.
“Baitul Maal ingin menjadi apa lima atau sepuluh tahun mendatang?”
Pertanyaan ini sering kali belum mendapatkan perhatian yang cukup.
Padahal dari jawaban itulah berbagai keputusan organisasi mulai disusun.
Apakah Baitul Maal cukup berfokus sebagai pengelola zakat yang amanah?
Apakah ingin menjadi pusat penghimpunan dana sosial?
Apakah ingin memperkuat pemberdayaan masyarakat?
Apakah ingin mengembangkan pengelolaan wakaf produktif?
Atau mengintegrasikan seluruh fungsi tersebut secara bertahap?
Tidak ada jawaban yang paling benar.
Yang lebih penting adalah adanya arah yang disepakati bersama.
Tidak Semua BMT Harus Memiliki Visi yang Sama
Salah satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa visi pengembangan Baitul Maal tidak harus seragam.
BMT yang masih memperkuat fungsi dasar Baitul Maal tentu memiliki kebutuhan yang berbeda dengan BMT yang telah memiliki SDM, jaringan, dan kapasitas organisasi yang lebih besar.
Sebagai contoh.
Sebagian BMT mungkin memiliki visi untuk menjadi lembaga penghimpun dan penyalur zakat yang terpercaya.
Sebagian lainnya mungkin mulai mengembangkan fungsi pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ada pula yang memilih memperkuat pengelolaan wakaf produktif atau membangun kolaborasi sosial dengan berbagai pihak.
Semua pilihan tersebut dapat menjadi tepat, selama disesuaikan dengan kebutuhan organisasi dan masyarakat yang dilayaninya.
Karena itu, yang perlu disepakati bukanlah visi yang sama, melainkan visi yang sesuai.
Tanpa Visi, Sulit Menentukan Prioritas
Visi bukan sekadar kalimat yang dipasang di dinding kantor.
Visi menjadi dasar dalam menentukan berbagai keputusan organisasi.
Mulai dari kebutuhan SDM.
Prioritas program.
Pengalokasian anggaran.
Pengembangan sistem.
Hingga ukuran keberhasilan.
Misalnya, apabila sebuah BMT memiliki visi memperkuat pemberdayaan ekonomi, maka kebutuhan SDM, pelatihan, kemitraan, dan sistem pendampingannya tentu akan berbeda dengan BMT yang memilih fokus pada penghimpunan dana sosial.
Dengan kata lain, visi membantu organisasi menentukan prioritas.
Tanpa visi, keputusan sering kali bersifat reaktif terhadap situasi yang sedang dihadapi.
Visi Menjadi Titik Temu Seluruh Unsur Organisasi
Dalam banyak organisasi, pengembangan Baitul Maal BMT sering kali dianggap sebagai urusan pengelolanya saja.
Padahal arah pengembangan Baitul Maal di BMT seharusnya menjadi bagian dari visi lembaga secara keseluruhan.
Sebab keberhasilan Baitul Maal BMT tidak hanya bergantung pada tim yang mengelolanya.
Ia membutuhkan dukungan pimpinan.
Sinergi dengan unit lain.
Komitmen organisasi.
Serta kesepahaman mengenai peran yang ingin dimainkan Baitul Maal BMT di masa depan.
Ketika visi tersebut menjadi milik bersama, maka setiap unsur organisasi akan bergerak menuju tujuan yang sama.
Visi Tidak Harus Ambisius, Tetapi Harus Realistis
Kadang-kadang muncul anggapan bahwa memiliki visi berarti harus menargetkan hal-hal yang besar.
Padahal belum tentu demikian.
Visi yang baik bukanlah visi yang paling tinggi.
Melainkan visi yang mampu dicapai secara bertahap sesuai kapasitas organisasi.
BMT yang baru membangun Baitul Maal tentu tidak perlu langsung menargetkan pengelolaan wakaf produktif atau berbagai program pemberdayaan yang kompleks.
Sebaliknya, membangun tata kelola yang baik, meningkatkan kepercayaan masyarakat, serta memperkuat penghimpunan dana sosial dapat menjadi visi yang sangat bernilai pada tahap awal.
Seiring bertambahnya kapasitas organisasi, visi tersebut dapat berkembang mengikuti kebutuhan dan peluang yang ada.
Dari Visi Menuju Strategi
Visi yang jelas akan memudahkan organisasi menyusun langkah-langkah berikutnya.
Visi membantu menentukan fungsi yang ingin diperkuat.
Fungsi menentukan strategi.
Strategi melahirkan program.
Program membutuhkan SDM dan anggaran.
Kemudian seluruhnya dievaluasi menggunakan ukuran keberhasilan yang sesuai.
Dengan demikian, visi bukanlah tujuan akhir.
Ia justru menjadi titik awal lahirnya berbagai keputusan strategis dalam pengembangan Baitul Maal.
Pertanyaan yang mungkin perlu mulai didiskusikan bukanlah apakah seluruh BMT harus mengembangkan Baitul Maal dengan cara yang sama.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:
Apakah setiap BMT telah memiliki gambaran yang cukup jelas mengenai peran yang ingin dimainkan oleh Baitul Maalnya di masa depan?
Jawaban atas pertanyaan tersebut mungkin berbeda pada setiap organisasi.
Dan memang tidak harus sama.
Namun ketika sebuah organisasi memiliki visi yang disepakati bersama, setiap langkah yang diambil akan memiliki arah yang lebih jelas.
Karena pada akhirnya, organisasi yang baik bukan hanya organisasi yang banyak bekerja.
Melainkan organisasi yang memahami ke mana ia ingin melangkah.


BMT Rismada Photo by freepik
Kembalinya Keuangan Syariah Photo by Media 9
Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!