Amil: Antara Pengabdian dan Profesionalisme
/0 Comments/in Artikel/by administratorAmil: Antara Pengabdian dan Profesionalisme
Oleh: Mahatma Yusuf (Praktisi Baitul Maal BMT selama 12 tahun)
“Semakin lama saya bekerja di Baitul Maal, semakin saya menyadari bahwa tantangan terbesarnya bukan hanya menghimpun dana atau menjalankan program. Tantangan yang sesungguhnya adalah membangun manusia yang mampu mengemban amanah itu.”
Ketika pertama kali terjun ke dunia Baitul Maal, saya mengira pekerjaan seorang amil tidak jauh berbeda dengan pekerjaan pada umumnya. Ada target yang harus dicapai, program yang harus dijalankan, laporan yang harus diselesaikan, lalu pekerjaan selesai ketika jam kantor berakhir.
Ternyata saya keliru.
Semakin lama berada di dunia Baitul Maal, semakin saya menyadari bahwa pekerjaan ini tidak pernah sesederhana itu.
Hari ini kita melakukan asesmen mustahik.
Besok menyusun proposal program.
Lusa bertemu calon donatur.
Sore hari menghadiri kegiatan Rumah Qur’an.
Malam harinya masih menyusun laporan, mengedit dokumentasi, membuat materi publikasi, atau menjawab pertanyaan donatur melalui telepon dan media sosial.
Pada saat yang sama, jika terjadi bencana, semua rencana yang telah disusun bisa berubah dalam hitungan jam.
Bagi banyak pengelola Baitul Maal, situasi seperti ini bukan sesuatu yang luar biasa.
Justru inilah keseharian.
Saya kemudian mulai bertanya kepada diri sendiri.
Mengapa hampir semua pengelola Baitul Maal yang saya kenal akhirnya menguasai begitu banyak bidang?
Mengapa banyak di antara mereka mampu menjadi fundraiser, penyusun program, pendamping masyarakat, pembicara, penulis proposal, desainer, fotografer, editor video, hingga pengelola media sosial?
Apakah memang sejak awal mereka dipersiapkan untuk itu?
Ataukah ada sesuatu dalam perjalanan organisasi yang membentuk mereka menjadi seperti itu?
Semakin lama mengamati, saya semakin yakin bahwa kondisi tersebut bukan terutama disebabkan oleh kemampuan pribadi seseorang.
Sebagian besar justru lahir karena organisasi sedang bertumbuh.
Ketika organisasi masih kecil, hampir semua pekerjaan dikerjakan oleh orang yang sama. Bukan karena itu ideal, tetapi karena memang belum ada pilihan lain.
Di sinilah saya belajar bahwa menjadi pengelola Baitul Maal berarti menjadi seorang pembelajar.
Bukan karena semua pekerjaan harus dikuasai.
Tetapi karena organisasi membutuhkan orang-orang yang bersedia terus belajar ketika tantangan baru datang.
Dalam berbagai forum, saya sering mendengar nasihat yang sangat baik.
“Jadilah amil yang ikhlas.”
“Bekerjalah lillāhi ta’ālā.”
Saya percaya nasihat itu.
Bahkan saya meyakini bahwa tanpa keikhlasan, pekerjaan di Baitul Maal akan terasa sangat berat.
Dana yang dikelola bukan milik kita.
Program yang dijalankan bukan untuk kepentingan pribadi.
Bahkan hasil kerja kita sering kali tidak terlihat oleh banyak orang.
Karena itu, keikhlasan memang menjadi fondasi yang tidak boleh hilang.
Namun semakin lama saya bekerja, muncul pertanyaan lain yang jarang dibicarakan.
Apakah keikhlasan seorang amil boleh dijadikan alasan agar organisasi tidak perlu berubah?
Pertanyaan ini mungkin terdengar tidak nyaman.
Tetapi saya kira perlu didiskusikan.
Saya pernah melihat pengelola yang bersedia mempelajari apa saja demi memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan.
Belajar membuat proposal.
Belajar desain.
Belajar membuat video.
Belajar mengelola website.
Belajar media sosial.
Belajar fundraising.
Belajar menyusun laporan.
Belajar mendampingi mustahik.
Belajar berkomunikasi dengan donatur.
Semangat seperti ini adalah kekuatan yang luar biasa.
Tetapi saya juga melihat sisi lainnya.
Karena selalu ada orang yang bersedia belajar dan mengerjakan semuanya, organisasi sering kali merasa bahwa kondisinya baik-baik saja.
Kalimat yang sering muncul sederhana.
“Selama ini juga bisa.”
Kalimat itu terdengar wajar.
Padahal di baliknya terdapat persoalan yang lebih besar.
Bisa jadi yang selama ini membuat organisasi tetap berjalan bukanlah sistem yang kuat.
Melainkan ada satu atau dua orang yang terus menutupi berbagai kekurangan organisasi.
Lambat laun, dedikasi berubah menjadi penyangga organisasi.
Padahal seharusnya dedikasi menjadi energi untuk mempercepat pembangunan organisasi.
Di titik inilah saya mulai memahami bahwa keikhlasan memiliki dua sisi.
Di satu sisi, ia adalah kekuatan terbesar seorang amil.
Di sisi lain, apabila tidak disertai pengembangan organisasi, keikhlasan dapat tanpa sadar berubah menjadi alasan untuk mempertahankan cara kerja yang sudah tidak memadai.
Saya tidak mengatakan bahwa para amil harus berhenti belajar.
Sebaliknya.
Kemauan belajar adalah salah satu karakter terpenting yang perlu dimiliki oleh setiap pengelola Baitul Maal.
Yang ingin saya tekankan adalah bahwa organisasi juga memiliki tanggung jawab.
Ketika menemukan amil yang memiliki dedikasi tinggi, langkah pertama bukanlah menambah daftar pekerjaannya.
Langkah pertama adalah bertanya,
“Bagaimana organisasi dapat mendukungnya agar amanah ini dipikul bersama?”
Di sinilah saya melihat hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara pengabdian dan profesionalisme.
Selama ini keduanya sering dipertentangkan.
Padahal menurut saya justru saling melengkapi.
Pengabdian memberikan ruh.
Profesionalisme menjaga agar ruh tersebut menghasilkan manfaat yang berkelanjutan.
Keikhlasan membuat seorang amil tetap bertahan ketika keadaan sulit.
Sementara profesionalisme membuat organisasi tidak bergantung pada pengorbanan satu orang.
Saya percaya setiap Baitul Maal membutuhkan amil yang ikhlas.
Namun saya juga percaya bahwa setiap amil berhak bekerja di dalam organisasi yang terus bertumbuh.
Organisasi yang memperjelas pembagian peran.
Membangun sistem.
Menyiapkan kader.
Memberikan kesempatan belajar.
Dan memastikan bahwa amanah besar ini tidak dipikul oleh segelintir orang saja.
Pada akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan sederhana.
Keikhlasan adalah modal moral seorang amil.
Tetapi membangun organisasi yang sehat adalah amanah pimpinan.
Keduanya tidak boleh dipisahkan.
Sebab Baitul Maal tidak akan bertahan hanya karena memiliki orang-orang yang rela berkorban.
Baitul Maal akan bertahan ketika keikhlasan para amil bertemu dengan kepemimpinan yang mampu mengubah pengabdian menjadi sistem, dan sistem menjadi manfaat yang terus tumbuh bagi umat.


Selamat Datang di Era Attention Economy by commonedge.org


Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!