Oleh: Mahatma Yusuf
Praktisi Baitul Maal BMT selama 12 tahun
Jangan menyamakan ukuran keberhasilan organisasi yang memiliki fungsi dan kapasitas yang berbeda.
Selama berkecimpung dalam pengelolaan Baitul Maal, saya sering bertemu dan berdiskusi dengan pengelola BMT dari berbagai daerah.
Dari sana saya melihat satu hal yang menarik.
Ada Baitul Maal yang sudah berkembang cukup besar. Pengelolanya beberapa orang, programnya beragam, sistemnya mulai tertata, dan penghimpunannya sudah cukup baik.
Ada pula yang masih dikelola oleh satu orang. Bahkan pengelolanya masih merangkap tugas di Baitut Tamwil.
Ada yang sejak awal lebih banyak mengelola zakat.
Ada yang lebih kuat pada infak dan sedekah.
Ada yang mulai mengembangkan wakaf.
Ada yang dikenal masyarakat karena pelayanan sosialnya.
Ada pula yang lebih banyak bergerak dalam pemberdayaan.
Melihat perbedaan tersebut, kita sering tergoda untuk membuat kesimpulan sederhana:
Baitul Maal yang lebih besar berarti lebih berkembang.
Padahal belum tentu.
Sebab dua BMT yang terlihat berbeda belum tentu sedang membangun hal yang sama. Begitu pula dua Baitul Maal yang terlihat sama belum tentu memiliki alasan yang sama mengapa mereka memilih cara tersebut.
Semakin lama saya mengamati berbagai praktik tersebut, saya justru semakin sering bertanya:
Apakah setiap Baitul Maal memang harus memiliki fungsi, target, dan ukuran keberhasilan yang sama?
Menurut saya, belum tentu.
Kita Sering Membandingkan Hasil, Bukan Apa yang Sedang Dibangun
Dalam berbagai forum, saya cukup sering mendengar pertanyaan seperti:
“Mengapa penghimpunan Baitul Maal kami belum sebesar BMT itu?”
“Mengapa program kami belum sebanyak mereka?”
“Mengapa donatur kami belum berkembang?”
Pertanyaan tersebut tentu wajar.
Saya sendiri banyak belajar dari Baitul Maal yang sudah berkembang lebih dahulu.
Tetapi semakin lama berada di lapangan, saya menyadari bahwa kita sering hanya melihat hasil akhirnya.
Kita melihat jumlah penghimpunan.
Kita melihat jumlah program.
Kita melihat jumlah pengelola.
Kita melihat jumlah penerima manfaat.
Tetapi kita tidak selalu melihat apa yang sebenarnya sedang dibangun di belakang angka-angka tersebut.
Setiap BMT memiliki kondisi yang berbeda.
Ada yang baru berdiri.
Ada yang sudah puluhan tahun.
Ada yang memiliki aset dan SDM besar.
Ada yang masih sangat terbatas.
Ada yang berada di kota.
Ada yang melayani masyarakat pedesaan.
Ada yang memiliki tim khusus Baitul Maal.
Ada yang seluruh aktivitasnya masih dikerjakan oleh satu orang.
Kalau kondisi awalnya berbeda, mengapa kita berharap hasilnya harus sama?
Sebelum Menentukan Target, Tentukan Dulu Fungsinya
Menurut saya, inilah bagian yang sering terlewat.
Kita terlalu cepat berbicara tentang target.
Target penghimpunan.
Target donatur.
Target program.
Target penerima manfaat.
Padahal ada pertanyaan yang lebih mendasar:
Sebenarnya Baitul Maal ini ingin menjalankan fungsi apa?
Pertanyaan itu kelihatannya sederhana.
Tetapi jawabannya akan memengaruhi banyak hal.
Saya pernah berdiskusi dengan beberapa pengelola BMT dan menemukan bahwa jawabannya tidak selalu sama.
Ada yang mengatakan bahwa tugas utama Baitul Maal adalah memastikan zakat dikelola secara amanah.
Ada yang lebih menekankan pelayanan sosial.
Ada yang ingin memperkuat penghimpunan agar manfaat yang diberikan semakin luas.
Ada yang ingin mengembangkan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ada yang mulai serius mengembangkan wakaf.
Menurut saya, semua pilihan tersebut bisa saja benar.
Yang menjadi persoalan justru ketika organisasi sendiri belum pernah menyepakati fungsi apa yang ingin diprioritaskan, tetapi sudah menetapkan target dan ukuran keberhasilan.
Sebab sumber daya kita terbatas.
Tenaga terbatas.
Anggaran terbatas.
Waktu juga terbatas.
Kita tidak mungkin membangun semua hal dengan kekuatan yang sama pada waktu yang bersamaan.
Karena itu, menurut saya, organisasi perlu menentukan apa yang memang ingin diperkuat.
Kalau ingin memperkuat penghimpunan, maka kemampuan fundraising, komunikasi, pelayanan donatur, dan teknologi perlu diperkuat.
Kalau ingin memperkuat pelayanan sosial, maka tata kelola, kecepatan pelayanan, ketepatan sasaran, transparansi, dan kepercayaan masyarakat menjadi penting.
Kalau ingin memperkuat pemberdayaan, maka kualitas program, pendampingan, pengukuran dampak, dan jejaring menjadi perhatian.
Bukan berarti fungsi yang lain kemudian hilang.
Yang berbeda adalah apa yang mendapatkan penekanan dan kapasitas lebih besar untuk dibangun.
Bukan Berarti Pekerjaan Dasar Baitul Maal Berbeda
Di sini saya merasa perlu memperjelas sesuatu.
Ketika saya mengatakan bahwa fungsi Baitul Maal di setiap BMT tidak harus sama, bukan berarti pekerjaan dasar Baitul Maal boleh ditinggalkan.
Baitul Maal tetap perlu menghimpun dana.
Tetap perlu mengelola amanah.
Tetap perlu membuat program.
Tetap perlu menyalurkan atau memanfaatkan dana.
Tetap perlu melayani penerima manfaat.
Tetap perlu membuat laporan.
Tetap perlu menjaga administrasi, tata kelola, dan kepercayaan masyarakat.
Fundraising tetap menjadi bagian penting.
Sumber dana bisa berasal dari anggota BMT maupun masyarakat luas.
Jadi bukan berarti:
Baitul Maal A hanya fundraising.
Baitul Maal B hanya pelayanan sosial.
Baitul Maal C hanya pemberdayaan.
Bukan begitu.
Pekerjaan dasarnya tetap ada.
Yang dapat berbeda adalah fungsi yang ingin lebih diprioritaskan, arah pengembangan, mandat, skala, dan kontribusi yang ingin dibangun.
Saya kira pembedaan ini penting supaya kita tidak salah memahami gagasan bahwa fungsi Baitul Maal di setiap BMT tidak harus sama.
Mengapa BMT Membentuk Baitul Maal?
Pertanyaan ini sebenarnya lebih mendasar lagi.
Mengapa BMT membentuk Baitul Maal?
Kita begitu terbiasa dengan istilah Baitul Maal wat Tamwil sehingga kadang lupa merenungkan maknanya.
BMT sejak awal membawa dua fungsi yang saling melengkapi.
Baitut Tamwil menjalankan fungsi ekonomi.
Baitul Maal menjalankan fungsi sosial.
Keduanya tidak dibentuk untuk saling bersaing.
Tamwil menjaga keberlanjutan ekonomi organisasi.
Baitul Maal menjalankan fungsi sosial yang menjadi bagian dari jati diri BMT.
Karena itu, saya merasa perlu berhati-hati ketika Baitul Maal hanya dilihat dari berapa besar dana yang berhasil dihimpun.
Tentu penghimpunan penting.
Bahkan sangat penting.
Tetapi apakah itu satu-satunya alasan Baitul Maal ada?
Menurut saya, tidak.
Kalau demikian, kita perlu kembali bertanya:
Apa sebenarnya yang ingin dihadirkan Baitul Maal bagi BMT dan masyarakat?
Jawaban dari pertanyaan tersebut akan menentukan arah pengembangannya.
Baitul Maal: Lembaga Mandiri atau Divisi Strategis?
Pertanyaan berikutnya adalah tentang posisi Baitul Maal di dalam organisasi.
Apakah Baitul Maal harus menjadi lembaga yang berdiri sendiri?
Atau cukup menjadi bagian dari struktur BMT?
Selama berdiskusi dengan berbagai BMT, saya menemukan beberapa pola.
Ada yang memiliki pengelola khusus.
Ada yang menggunakan pengelola rangkap.
Ada pula yang mengintegrasikan fungsi sosial dengan berbagai bagian di dalam organisasi.
Misalnya, funding mengenalkan program zakat kepada anggota.
Account Officer menemukan calon penerima manfaat ketika berada di lapangan.
Frontliner membantu memberikan informasi mengenai program sosial.
Bukan berarti semua orang menjadi amil.
Tetapi fungsi sosial tidak hanya dianggap sebagai urusan satu bagian.
Menurut saya, tidak ada satu model yang otomatis paling benar untuk semua BMT.
Saya pernah melihat Baitul Maal yang dikelola oleh satu orang tetapi mampu memberikan manfaat yang cukup luas.
Sebaliknya, ada pula yang memiliki struktur lebih besar tetapi belum mampu mengembangkan programnya dengan baik.
Karena itu, saya tidak lagi terlalu tertarik pada pertanyaan:
“Berapa orang yang mengelola Baitul Maal?”
Saya lebih tertarik pada pertanyaan:
“Apakah cara kita mengorganisasikan Baitul Maal sudah sesuai dengan fungsi dan amanah yang ingin dijalankan?”
Sebab struktur seharusnya mengikuti pekerjaan yang memang ingin dijalankan.
Kalau pekerjaannya masih sederhana, satu orang mungkin masih cukup.
Tetapi ketika mulai ada kebutuhan fundraising digital, komunikasi publik, pemberdayaan, kemitraan, relawan, wakaf, dan berbagai pekerjaan lain, tentu kebutuhan organisasinya berubah.
Bukan karena ingin terlihat lebih besar.
Tetapi karena fungsi yang dijalankan memang semakin berkembang.
Ketika Baitul Maal Harus Membiayai Dirinya Sendiri
Ada persoalan lain yang menurut saya menarik untuk dibicarakan.
Kadang kita menggunakan cara berpikir yang sama seperti ketika menilai sebuah unit bisnis.
Baitul Maal ditanya:
“Berapa yang bisa dihimpun?”
Kemudian dibandingkan dengan:
“Berapa biaya yang dikeluarkan?”
Kalau penghimpunannya besar, Baitul Maal dianggap mampu.
Kalau penghimpunannya kecil, mulai muncul pertanyaan:
“Apakah Baitul Maal masih layak dipertahankan?”
Saya memahami bahwa organisasi memang harus memperhatikan biaya.
Baitul Maal juga tidak boleh mengabaikan efisiensi dan tata kelola.
Tetapi saya kira kita perlu berhati-hati jika seluruh keberadaannya kemudian hanya dinilai dari kemampuan menghasilkan pendapatan untuk membiayai dirinya sendiri.
Sebab tidak semua investasi organisasi menghasilkan pendapatan secara langsung.
BMT mengeluarkan biaya untuk meningkatkan kompetensi SDM.
Mengembangkan sistem informasi.
Melakukan audit.
Membangun tata kelola.
Memperkuat manajemen risiko.
Semua membutuhkan biaya.
Tetapi tidak semuanya langsung menghasilkan pemasukan.
Nilainya muncul dalam bentuk organisasi yang lebih sehat, lebih dipercaya, dan lebih siap menghadapi masa depan.
Menurut saya, penguatan Baitul Maal juga perlu dilihat dengan cara yang sama.
Nilainya tidak selalu muncul dalam laporan laba rugi.
Ada kepercayaan masyarakat.
Ada hubungan dengan anggota.
Ada reputasi.
Ada jejaring.
Ada manfaat sosial.
Ada program pemberdayaan.
Dan ada identitas BMT sebagai lembaga yang tidak hanya menjalankan fungsi ekonomi, tetapi juga fungsi sosial.
Ukuran Keberhasilan Tidak Harus Sama
Dari sinilah saya mulai melihat bahwa ukuran keberhasilan Baitul Maal juga tidak selalu bisa diseragamkan.
Saya pernah melihat Baitul Maal dinilai kurang berhasil hanya karena penghimpunannya tidak terlalu besar.
Padahal setelah dipahami, sejak awal Baitul Maal tersebut memang tidak diberi mandat utama sebagai unit fundraising.
Tugas utamanya adalah memastikan pelayanan sosial kepada anggota dan masyarakat berjalan dengan baik.
Apakah adil jika kemudian ia dinilai hanya dari angka penghimpunan?
Menurut saya, belum tentu.
Baitul Maal yang memang berfokus pada fundraising tentu wajar jika dilihat dari pertumbuhan donatur, penghimpunan, efektivitas kampanye, dan sebagainya.
Baitul Maal yang lebih menekankan pelayanan sosial dapat lebih tepat dinilai dari kualitas pelayanan, ketepatan penyaluran, kecepatan pelayanan, transparansi, dan kepercayaan masyarakat.
Baitul Maal yang mengembangkan pemberdayaan perlu melihat perubahan yang terjadi dalam kehidupan penerima manfaat.
Artinya, ukuran keberhasilan harus mengikuti fungsi yang dijalankan, bukan sebaliknya.
Jangan Meniru Hasilnya, Pelajari Prosesnya
Saya percaya setiap BMT perlu belajar dari BMT lain.
Tetapi semakin lama saya berkecimpung di dunia Baitul Maal, semakin saya merasa bahwa yang perlu dipelajari bukan hanya hasil akhirnya.
Kita melihat Baitul Maal lain menghimpun miliaran rupiah.
Kita ingin seperti mereka.
Kita melihat mereka memiliki banyak program.
Kita ingin seperti mereka.
Kita melihat mereka memiliki banyak pengelola.
Kita ingin seperti mereka.
Tetapi apa yang sering tidak kita lihat adalah proses di belakangnya.
Bagaimana pimpinan memberikan dukungan?
Bagaimana SDM disiapkan?
Bagaimana sistem dibangun?
Bagaimana budaya organisasi dibentuk?
Bagaimana kepercayaan masyarakat tumbuh?
Bagaimana program dikembangkan?
Berapa lama semua itu dibangun?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut justru sering jauh lebih berharga daripada sekadar mengetahui berapa besar penghimpunan mereka.
Sebab hasil yang sama belum tentu bisa dicapai dengan cara yang sama oleh organisasi yang berbeda.
Yang Berkembang Bukan Identitasnya, tetapi Kapasitasnya
Saya juga tidak berpikir bahwa Baitul Maal baru perlu dikembangkan setelah BMT menjadi besar.
Sebaliknya, saya juga tidak berpikir bahwa setiap BMT harus langsung memiliki struktur Baitul Maal yang lengkap sejak awal.
Keduanya menurut saya kurang tepat.
Fungsi sosial adalah bagian dari identitas BMT sejak awal.
Yang berbeda adalah kemampuan organisasi dalam menjalankannya.
BMT yang masih kecil mungkin baru mampu membangun tata kelola, penghimpunan dasar, pelayanan, dan penyaluran dengan baik.
Ketika kapasitasnya meningkat, mungkin mulai dibutuhkan fundraising yang lebih sistematis, komunikasi publik, media digital, pemberdayaan, kemitraan, relawan, atau wakaf.
Itu bukan berarti identitas Baitul Maalnya berubah.
Yang berkembang adalah kapasitas organisasi dalam menjalankan fungsi sosial tersebut.
Karena itu, menurut saya:
Komitmen dapat hadir sejak awal. Kapasitas dibangun melalui proses yang panjang.
Bukan Semua Harus Sama
Setelah bertahun-tahun melihat berbagai Baitul Maal, saya semakin percaya bahwa tidak ada satu bentuk yang cocok untuk semua BMT.
Ada yang kuat dalam pelayanan.
Ada yang berkembang dalam fundraising.
Ada yang lebih banyak bergerak dalam pemberdayaan.
Ada yang memperkuat wakaf.
Ada yang membangun kolaborasi dengan berbagai pihak.
Ada yang masih dalam tahap membangun fondasi.
Dan satu Baitul Maal pun bisa menjalankan beberapa peran tersebut sekaligus.
Keragaman itu menurut saya bukan masalah.
Yang menjadi masalah adalah ketika kita menganggap hanya ada satu bentuk yang benar, lalu semua Baitul Maal dipaksa mengikuti ukuran yang sama.
Setiap BMT memiliki sejarah, kapasitas, budaya kerja, karakter masyarakat, dan tantangan yang berbeda.
Karena itu, cara mengembangkan Baitul Maalnya pun tidak harus sama.
Penutup
Mungkin setelah membaca tulisan ini, pertanyaannya bukan lagi:
“Berapa target penghimpunan Baitul Maal kita tahun ini?”
Pertanyaan itu tetap penting.
Tetapi sebelum sampai ke sana, mungkin kita perlu bertanya:
“Sebenarnya Baitul Maal ini ingin kita bangun menjadi apa?”
Dari pertanyaan itu baru kita bisa menentukan apa yang perlu diperkuat.
Apakah fundraising?
Apakah pelayanan?
Apakah pemberdayaan?
Apakah wakaf?
Apakah kemitraan?
Atau beberapa di antaranya sekaligus?
Kemudian kita bisa bertanya:
“Kapasitas apa yang harus kita bangun untuk menjalankan fungsi tersebut?”
Barulah setelah itu kita bicara tentang struktur, SDM, anggaran, program, target, dan ukuran keberhasilan.
Sebab kalau urutannya dibalik, kita mudah terjebak mengejar angka tanpa benar-benar tahu untuk apa angka tersebut dicapai.
Saya tidak mengatakan bahwa semua Baitul Maal harus memiliki fungsi yang sama persis.
Saya juga tidak mengatakan bahwa pekerjaan dasar Baitul Maal boleh berbeda-beda sesuka hati.
Yang saya yakini adalah:
setiap BMT memiliki kondisi dan pilihan pengembangan yang berbeda.
Karena itu, arah, penekanan, kapasitas, struktur, dan ukuran keberhasilan Baitul Maalnya juga tidak harus sama.
Yang penting bukan membuat semua Baitul Maal menjadi seragam.
Yang penting adalah memastikan bahwa Baitul Maal benar-benar menjalankan amanahnya, sesuai dengan fungsi yang ingin dibangun dan kapasitas yang dimiliki.
Sebab pada akhirnya, kita tidak sedang berlomba membuat Baitul Maal siapa yang paling besar.
Kita sedang berusaha memastikan agar fungsi sosial yang menjadi bagian dari jati diri BMT benar-benar hidup dan memberikan manfaat.
Bukan semua harus sama.
Tetapi semua harus tepat.